Tuhan yang Menyembuhkan

Romo Yote

SIAPA yang tak tahu Romo Letkol (Sus) Yos Bintoro, Pr? Fotonya sempat viral pasca ia menjadi Komandan Upacara HUT TNI ke-72 di Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta. Bukan sebuah perjalanan yang mudah hingga saat ini dirinya bertugas sebagai pastor militer pertama yang mengikuti pendidikan reguler ketentaraan dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Juga bukan sebuah perjalanan yang singkat sejak Romo yang akrab disapa Romo Yote ini memilih untuk menjawab panggilan hidupnya untuk menjadi seorang imam.

Romo Yote mengatakan sebuah anugerah sejatinya tidak selalu hadir dalam keadaan baik. Bahkan, dalam keadaan tidak baik pun, anugerah bisa menghampiri. Ia menceritakan bahwa sejak bayi, ia sudah “dikaruniai” Tuhan sebuah penyakit bawaan lahir, yakni epilepsi perut. Dan ketika ia berusia 3 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya terbakar. Saat usianya 5 tahun, ia pun pernah jatuh yang menyebabkan kepalanya bocor karena terantuk batu. Kondisi ini menyebabkan anak kelima dari enam bersaudara pasangan Rafael Ignatius Djoko Sukaryo Martokusumo dan Ray Maria Dolores Mursyanti ini jarang masuk sekolah karena banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Alhasil, Yote kecil sering ketinggalan pelajaran dan terbilang tak berprestasi di sekolahnya.

“Dalam situasi tidak baik itu, ibunda Romo bilang, kalau mau sembuh kamu harus percayakan sama Tuhan Yesus. Romo percaya Tuhan bisa menyembuhkan. Dan ternyata betul, Romo mengalami penyembuhan secara medik yang tidak bisa dijelaskan. Tadinya Romo pakai terapi pijat karena yang rusak ternyata juga termasuk saraf tepi dari tulang belakang saat jatuh itu. Ibu juga bantu doa dan sempat bernazar. Ibu doa sama Bunda Maria secara khusus di Lourdes dan mengambil air disana. Air itu dicampur dengan obat-obat Romo. Akhirnya, Romo sembuh,” ungkap Romo Yote.

Kesembuhan itu semakin diyakininya saat hasil tes medik Electroencephologram (EEG) menyatakan negatif dan juga saraf tepi tulang belakangnya sudah kembali normal. Romo Yote mengucap syukur kepada Tuhan karena penyakit yang hampir 4 tahun menghantuinya itu akhirnya sembuh seketika. Ia duduk di bangku kelas V SD, saat kondisinya membaik. Sejak itu, rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan Romo Yote pun mulai mengejar ketertinggalannya hingga bisa berprestasi di sekolahnya.

“Satu hal, Romo merasa Tuhan baik. Saat kelas V SD, Romo berfikir, apa yang bisa Romo berikan (kepada Tuhan) karena Tuhan sudah baik sama Romo. Romo sering ke Gereja dan selalu mendapatkan kedamaian. Kenapa Romo menjadi Romo, karena Romo ingin mempersembahkan hidup untuk Tuhan,” papar imam yang juga mengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta ini.

Saat masuk seminari dan menjadi imam, ia sadar bahwa sakramen imamat bukan tujuannya. Menurutnya, sakramen imamat hanya sebagai sarana. Tujuannya adalah hidup suci. Dan hidup suci bukan hanya menjadi pastor saja, melainkan menjadi orang yang berguna bagi sesama. Oleh karena itu, ia tak pernah main-main dengan panggilannya sebagai pastor militer. Apalagi sebagai tentara, ia menghadapi godaan yang luar biasa, mengingat jenjang karier militer cenderung naik.

“Romo mengira tugasnya akan di Jakarta, karena Romo memilih jadi Romo projo Jakarta. Namun, Romo disiapkan oleh Mgr. Leo Sukoto bertugas di Tangerang. Itu cita-cita Romo, mimpi untuk orang-orang kecil, para penderita kusta. Romo punya hati disitu. Tapi, tak lama uskupnya ganti (Uskup Agung Jakarta Julis Kardinal Darmaatmadja, SJ) dan Bapa Kardinal memanggil Romo dan ditugaskan khusus untuk menjadi pastor tentara. Padahal, Romo tidak suka tentara,” ungkapnya.

Romo Yote mengakui, di masa pencariannya berkarya sebagai pastor militer, ia sempat frustasi selama empat tahun. Namun, ia langsung teringat akan kebaikan Tuhan kepadanya. Ia teringat pula akan kuasa Tuhan yang mengubah kehidupannya. Atas keyakinan itu pula, ia belajar untuk menerima dan tak terasa ia sudah menjalani tugas ini selama 21 tahun.

“Bapa Kardinal bilang sama Romo, Bintoro saya tahu kamu oposan sama tentara. Tapi saya beritahu, tentara tidak bisa kamu kritik dan benahi dari luar. Tentara harus kamu benahi dari dalam. Maka itu saya ditempatkan di tempat pembentukan calon pemimpin yaitu Akademi Angkatan Udara supaya karakter mereka terbentuk. Sekarang, Romo sudah jalani tugas ini selama 21 tahun. Kelihatan nggak, Romo frustasi? Tidak, karena Romo selalu dalam suka cita,” ujar Romo yang pernah ditugaskan dalam Operasi Satuan Tugas Pembina Mental di Timor Timur, selama delapan bulan ini.

Seiring waktu, ia sadar tugas di TNI AU tidak cukup hanya memberikan pembinaan rohani atau sekedar pelayanan pastoral saja. Namun, saatnya berbuat sesuatu yang menyiapkan apa yang dibutuhkan TNI AU ke depan. Hingga akhirnya di tahun 2001, ia mampu merenovasi gudang di kawasan Pangkalan TNI AU untuk dijadikan bangunan gereja beserta pastoran. Dua tahun berselang, TNI AU menghibahkan bangunan gereja itu kepada Gereja Katolik yang diberi nama Gereja St. Mikael.

“Pengalaman untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus adalah pengalaman untuk siap menderita. Penderitaan itu dianggap sebagai suatu cara untuk menghidupi iman kita. Kita harus bersyukur dididik dalam kesulitasn dan rintangan agar teguh menghadapi badai namun juga berbelas kasih kepada mereka yang gagal sehingga kita menjadi manusia yang hatinya jernih,” pungkasnya. (ASTRI/KOMSOS)