Romo Rosi: Tetaplah Setia dalam Tugas Perutusan

DI tengah keramaian menyambut para imam baru, saya coba untuk mendekat kepada sosok yang menjadi pusat perhatian umat Paroki Pasar Minggu. Dia adalah Romo Ambrosius Lolong, Pr, yang juga merupakan teman satu angkatan saya saat duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, ia baru saja selesai memimpin Misa Perdana bersama dengan tiga orang rekannya yang juga ditahbiskan pada 8 Mei 2018 di Gereja St. Laurensius, Alam Sutera, Tangerang.

Antrean umat mengular untuk bisa memberikan selamat dan meminta berkat darinya. Mulai dari orang tua, muda, hingga anak-anak. Paroki Pasar Minggu sangat bergembira dan bersyukur menyambut imam baru putra paroki tersebut.

“Deg-degan rasanya, karena ini di rumah sendiri. Tempat saya lahir dan berkembang. Di sisi lain, ada rasa syukur karena mendapat dukungan luar biasa dari umat. Saya pun yakin bahwa saya tidak berjalan sendirian. Ada umat yang selama ini saya jarang jumpa tetapi pada akhirnya mereka mendukung,” ujarnya Romo Rosi, begitu ia akrab disapa, saat ditanyakan kesannya terhadap antusiasme umat Paroki Pasar Minggu.

Tidak pernah terbersit sekalipun dalam benak pria kelahiran 6 November 1988 ini untuk menjadi imam. Hingga pada suatu malam, selepas misa Sabtu sore, ia bersama dengan dua temannya pergi bersama Romo Martinus Hadiwijaya, Pr  untuk berdoa di Taman Makam Pahlawan. Setelah dari sana, mereka pun di ajak untuk mampir ke rumah ibunda Romo Hadi yang saat itu sedang terbaring sakit. Hingga ketika Romo Rosi bertemu dengan ibunda Romo Hadi, ia mendapat berkat tanda salib di dahi dari sang ibunda sambil berkata, “Besok jadi romo ya, gantikan anak saya.”

“Itu pengalaman pertama saya bagaimana saya dipanggil dan pada akhirnya terjadi,” jawabnya sambil tersenyum.

Keinginannya menjadi imam pun bukan tanpa hambatan. Ia mengaku, orang tuanya dalam hal ini ibunda, awalnya kurang mendukung keinginannya untuk masuk Seminari Menengah Wacana Bhakti. Anak dari pasangan Veronica Endang H dan Laurentius Lewo S ini pun dapat memahami keberatan dari orang tuanya, lantaran dirinya yang menjadi anak tunggal.

“Karena anak tunggal, maka memberatkan hati mama melepas anak satu-satunya masuk seminari. Dalam perjalanannya pun butuh proses panjang. Tapi pada akhirnya sekarang bersyukur bersama,” paparnya.

Ia pun tidak tahu persis kapan ibundanya akhirnya merestui dirinya menjadi imam. Tapi, menurutnya, selama tidak pernah diminta untuk keluar, baginya itu berarti orang tuanya pun turut merestui. Ia pun ingat pesan ayahanda kepadanya untuk selalu bertanggung jawab terhadap segala pilihan hidup yang ditempuhnya.

“Untuk teman-teman yang masih muda, tidak perlu berdoa saya mau menjadi imam. Tapi berdoalah dengan keterbukaan hati meminta kepada Tuhan agar hidup yang kita jalani ini sesuai kehendak-Nya, apapun itu,” ungkapnya.

Ia mengaku terus belajar untuk setia dalam setiap perutusan. Termasuk ketika masuk tahun orientasi pastoral di Seminari Menengah Mertoyudan, tempat yang awalnya dikhawatirkannya karena tak bisa berbahasa Jawa. Sampai ia berjumpa dengan para seminaris yang meneguhkannya, akhirnya ia pun dapat melalui kekhawatirannya itu.

“Ketika saya belajar untuk setia, disitu saya menemukan hal-hal kecil yang selalu meneguhkan. Saya percaya, apapun tantangannya pasti selalu ada hal baik di balik itu semua,” tandasnya.

Tapat tanggal 1 Juli 2018 kemarin, Romo Rosi yang kini masih menempuh studi S2 Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, resmi menjadi gembala baru di Paroki Harapan Indah, Bekasi menggantikan Romo Pramono Wahyu Nugroho, Pr. Proficiat dan selamat Romo. Tuhan selalu menyertai dengan berkat dan kekuatan. Jadilah berkat untuk umat dan masyarakat. (ASTRI/KOMSOS)