Jaga Kebhinnekaan di Media Sosial

PENYEBARAN berita bohong atau hoaks kini tengah menjadi persoalan yang cukup serius di Indonesia. Pasalnya, hoaks menjadi salah satu pemicu fenomena putusnya pertemanan, gesekan dan permusuhan. Informasi yang bersifat hoaks menyebar dengan cepat baik melalui saluran media sosial maupun grup di aplikasi chatting, seperti WhatsApp.

IMG_0469
KOMSOS/Martinus Adi Prabowo
WhatsApp Image 2018-10-29 at 15.44.58
KOMSOS/Astri Novaria

Menurut Koordinator Regional  Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFE Net) Damar Juniarto, dilihat dari sisi teknologi, media sosial memang tidak dibuat untuk bhineka. Oleh karena itulah, pengguna media sosial menjadi tak terbiasa hidup bersama dengan orang-orang yang berfikir dan bertindak berbeda dengannya lantaran secara tidak sadar terbiasa dengan klasifikasi persamaan yang dilakukan teknologi media sosial.

“Teknologi tersebut mempertemukan kita dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang sama. Mulai dari urusan selera, idola sampai urusan politik. Sehingga, teknologi media sosial tidak diperuntukkan untuk bhinneka,” ujarnya dalam diskusi bertajuk “Menjaga Kebhinnekaan di Media Sosial” di GRHA Keluarga Kudus, Paroki Pasar Minggu, Jakarta, Minggu (28/10).

Mengapa hal itu terjadi? Menurut Damar, ketika seseorang menggunakan internet artinya dia sedang membuat filter bubble atau gelembung tapis, yang artinya orang-orang yang tinggal dalam gelembung tersebut akan mendapatkan informasi homogen dan pelan-pelan membentuk keyakinan mereka mengenai isu-isu tertentu. Sehingga, suka tidak suka, pengguna media sosial mudah ditarik untuk kepentingan marketing industry dan oleh sekelompok orang yang mampu mengolah data serta membuat profil dari data tersebut. “Dalam situasi ini, jangan sampai ada konflik yang mengintai. Kalau ada, kita semua perlu merasa khawatir,” imbuhnya.

Sehubungan dengan itu, Damar mengimbau kepada para pengguna media sosial untuk belajar menerima sikap dan pandangan yang berbeda. “Kita harus dapat informasi yang berbeda dan belajar membangun dialog. Agak susah, tapi lakukan itu for the sake kita tahu orang lain punya pilihan yang berbeda,” pungkasnya.

IMG_0495
KOMSOS/Martinus Adi Prabowo

Menurut Matahari Timoer dari Komunitas Bela Indonesia, untuk mengetahui suatu informasi itu hoaks atau bukan, kita harus berani mengecek kebenaran dari informasi tersebut sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Selain itu, pengguna bisa turut melaporkan apabila menemukan konten di media sosial yang berisi hoaks, ujaran kebencian atau SARA serta radikalisme atau terorisme.

“Selain bantu laporkan, buatlah konten-konten atau karya yang positif yang mengingatkan soal indahnya keberagaman,” paparnya.

Wakil Redaktur Pelaksana Kompas.com, Yohanes Heru Margyanto, mengungkapkan rentan atau tidaknya seseorang terhadap hoaks tergantung kepada kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi dan literasi media, bukan hanya kemahiran memanfaatkan teknologi informasi.

“Sayangnya, penetrasi penggunaan internet yang banyak di Indonesia tidak diimbangi dengan kemampuan bersikap kritis. Sikap kritis masyarakat Indonesia nomor 2, tapi dari bawah. Indonesia peringkat 60 dari 61 negara,” paparnya.

Ia juga mengimbau kepada para pengguna internet untuk tidak menerima informasi hanya berdasarkan keyakinannya semata. “Begitu mencintai atau begitu membenci sesuatu itu berpotensi terjerumus pada hoaks. Lakukan verifikasi, verifikasi dan verifikasi. Kita baru bisa menyatakan itu hoaks atau bukan sampai temukan buktinya,” pungkasnya.

Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Hal ini merupakan bentuk kerja sama Panitia Tahun Persatuan 2018 dengan Seksi Keadilan dan Perdamaian. Di akhir acara, Komunitas Bela Indonesia sekaligus mengajak para peserta diskusi untuk turut serta menjadi relawan untuk mau menyumbangkan waktunya mewarnai media sosial dengan topik-topik yang mempromosikan kebhinekaan. (ASTRI/KOMSOS)