Mencintai Allah dan Mencintai Sesama

BEBERAPA waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah video yang berisi suatu eksperimen sosial di Amerika Serikat. Dalam video itu, dikisahkan seseorang memberikan sejumlah uang kepada seorang tuna wisma yang tidur di sebuah bangku taman. Setelah tuna wisma itu bangun dan melihat ada uang di bawah tas yang ia jadikan bantal, tentu saja ia kaget dan bingung. Setelah terdiam beberapa saat, ia lantas pergi ke sebuah toko untuk membeli selimut dan sleeping bag yang ia butuhkan.

Sekembalinya dari toko itu, ia mendengar seseorang berbicara menggunakan handphone. Dari pembicaraan yang ia dengar, orang yang sedang berbicara itu sangat membutuhkan uang untuk berobat anaknya yang sedang sakit. Dan ia sedang tidak punya uang. Mengetahui hal itu, si tuna wisma tadi segera pergi dan tak lama kemudian ia kembali. Rupanya ia menukarkan kembali selimut dan sleeping bag yang tadi ia beli dan uangnya lantas ia berikan kepada seseorang yang sedang butuh uang untuk anaknya itu.

Dari kisah ini, yang tentu direkam tanpa sepengetahuan si tuna wisma tadi, saya merasa masih ada suatu harapan bahwa dunia akan lebih baik ke depannya. Masih ada orang-orang yang mau perhatian dan peduli kepada sesamanya. Orang tadi memberikan apa yang ia miliki kepada orang yang mungkin lebih membutuhkan uang yang ia terima secara cuma-cuma tadi. Bisa saja ia berpikir, bahwa untuk apa membantu orang toh ia sendiri amat membutuhkan selimut dan sleeping bag untuk tidur di jalanan. Tetapi dari wawancara setelahnya, , si tuna wisma itu berkata bahwa ia mendapatkan uang itu dari orang yang baik hati, yang tidak ia tahu siapa. Dan ia mau memberikan juga pertolongan kepada yang lebih membutuhkan uang itu. Saya membantu karena saya lebih dahulu mendapatkan rahmat dari Tuhan. Kira-kira itu kesimpulan dari kisah tadi.

Itulah yang juga terjadi dalam bacaan Inhil hari ini. Saat Yesus ditanya apa perintah yang utama, jawabannya adalah mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Hal ini menarik bahwa mencintai Tuhan dan sesama itu adalah suatu hal yang tidak terpisahkan. Dua-duanya selalu berjalan bersamaan. Tidak bisa hanya mencintai Tuhan tetapi membenci sesama. Juga sebaliknya, hanya mencintai sesama tetapi menolak untuk percaya akan keberadaan Tuhan. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan.

Mencintai Tuhan itu terwujudkan dengan kerelaan kita mencintai sesama, terlebih yang sangat menderita. Mecintai sesama itu adalah suatu bentuk rasa syukur karena sudah, begitu banyak mendapatkan rahmat dari Tuhan. Rahmat bahasa latinnnya adalah Gratia – dekat dengan kata Gratis. Rahmat yang cuma-cuma. Kamu sudah mendapatkanya secara cuma-cuma, maka kamu hendaknya memberi dengan cuma-cuma pula. (Mat:10:8) Semoga Tuhan memberkati.

Rm. Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr

Hari Minggu BIasa XXXI