Orang Pilihan untuk Pelayanan Kasih

GEREJA memerlukan pelayan-pelayan untuk mewartakan Injil dan mengembangkan iman umat. Gereja Katolik memiliki imam, biarawan, biarawati dan umat awam yang saling bekerja sama mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini.

Ada berbagai bidang pelayanan yang telah berjalan dalam Gereja Katolik, misalnya : liturgi, pewartaan, pelayanan sosial ekonomi, kategorial, organisasi, dan berbagai bidang lainnya.

Kita sungguh bersyukur atas itu semua.Para rasul pada jamannya saling bekerja sama untuk pelayanan. Mereka memilih orang-orang untuk tugas tertentu dalam jemaat. Perhatian utama mereka adalah kepada yang berkekurangan, miskin, dan tersingkir. Ada kesulitan yang mereka hadapi saat itu. Para rasul menyadari keterbatasannya. Mereka butuh orang-orang yang fokus pada pelayanan kasih. Dalam Kisah Para Rasul disampaikan :

“Kami tidak merasa puas karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja” (Kis 6:2).

Lalu ditegaskan lebih lanjut pilihan tegas akan tugas pokok yang harus diemban oleh para rasul: “…supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman” (Kis 6:4). Mereka tidak mau meremehkan pelayanan kasih sebagai pelayanan sekunder, melainkan karena menyadari bahwa pelayanan itu menjadi sangat penting ditangani secara serius sebagai tugas dari Kristus yang bangkit.

Hanya saja diperlukan pelayan-pelayan khusus untuk itu, agar tugas pelayanan Firman dan doa tidak diabaikan sebagai tugas baku. Pelayanan Firman dan doa tetap mendasari pelayanan kasih itu. Pelayanan bagi sesama perlu, namun landasannya adalah Firman dan doa.

Para rasul menyadari pentingnya kerja sama dengan para petugas jemaat yang ada. Mereka memerlukan kerja sama dalam mengembangkan keyakinan iman. Maka kehidupan jemaat beriman bukan sekedar tanggung jawab sejumlah pemimpin tapi tanggung jawab semua orang beriman. Bagi mereka yang mau berpartisipasi dalam pengembangan hidup jemaat beriman memang diperlukan kualifikasi atau syarat-syarat tertentu. Syarat itu diantaranya adalah “nama baik: (bdk Kis 6:3).

Ini berarti bahwa pribadi tersebut terkenal baik di tengah jemaat beriman. Mereka juga harus “penuh hikmat” (bdk. Kis 6:3) yaitu kepekaan untuk bertindak dan perilaku tepat dalam kehidupan bersama. Bukan orang yang ‘semau gue’ atau ‘grusa’grusu’ dalam hidup bersama. Tidak hanya sekedar bakat dan kemampuan berpikir yang memadai, tapi mampu bertindak tepat, berkat bimbingan Roh Kudus.

(RD. Antonius Pramono)