Peringatan Arwah Orang Beriman

NOVEMBER kita kenal sebagai bulan untuk memperingati arwah orang-orang beriman. Kita mungkin pernah mendengar pertanyaan: “Mengapa sih kita mendoakan arwah saudara-saudari kita? Apakah ada dasarnya dalam Kitab Suci?” Gereja Katolik berusaha menjelaskan dengan dasar kitab suci tentang kebiasaan berdoa bagi mereka yang telah meninggal. Dasar kitab suci adalah : Kitab 2 Makabe 12:43-46, yang menyebutkan : “Kita yang percaya kebangkitan orang mati, maka perlu mendoakan mereka yang telah mati”. Kemudian dari 2 Kor 15:29 -“Kalau orang mati tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis demi orang-orang yang telah meninggal?”

Kita mendoakan mereka yang telah meninggal agar Allah memberi kerahiman kepada mereka. Paham bahwa orang mati dosa-dosanya masih mungkin diampuni berasal dari Sabda Yesus: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak”. Kalau ada dosa yang tidak dapat diampuni di dunia ini atau di dunia yang akan datang, maka ada dosa yang masih dapat diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Masalahnya: di mana dan bagaimana dosa itu diampuni? Gereja Katolik berpandangan bahwa ada kemungkinan selain orang masuk surga atau neraka; yakni: “Api Penyucian”.

Api Penyucian ialah suatu keadaan sementara di mana orang mati tidak masuk neraka, tapi mereka belum siap masuk surga karena masih punya banyak cacat-cela akibat dosa-dosanya. Ini artinya: meskipun dosa-dosanya sudah diampuni, tidak berarti semuanya beres. Masih ada akibat dosa atau hukuman yang masih perlu ditanggung si pendosa. Api Penyucian sifatnya sementara saja. Orang disiapkan di Api Penyucian, agar pantas bertemu dengan Tuhan di Surga. Orang dibebaskan dari dosa-dosa kecil yang belum diampuni, dan orang menjalani hukuman akibat dosa-dosanya di Api Penyucian. Proses di Api Penyucian menyakitkan, maka dilambangkan dengan “api”. Di sini orang dimurnikan seperti emas yang dimurnikan dalam api.

Salah satu jalan agar orang dapat terhindar dari Api Penyucian adalah dengan mendapatkan indulgensi. Indulgensi dapat diterapkan bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini dan juga yang masih berada di Api penyucian. Dengan indulgensi, orang-orang yang masih hidup di dunia ini dapat menghindari siksa dosa sementara (di Api Penyucian). Pembahasan tentang indulgensi akan dipaparkan minggu depan.

RD. Antonius Pramono

Ayo! Konsumsi Pangan Sehat, Segar dan Sejahtera

HARI Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Dan pada Minggu, 27 Oktober 2019 lalu, pada misa kedua, Gereja Katolik Keluarga Kudus Pasar Minggu turut merayakannya. Hal tersebut sekaligus memberikan inspirasi bagi umat agar peduli terhadap masalah pangan.
Idealnya, kita makan makanan yang sehat. Namun, bagi sebagian orang karena ketidakmampuannya, makan hanyalah sekedar mengisi perut. Kenyataan itu membuat kita terdorong untuk berbagi, yakni dengan melibatkan partisipasi umat untuk membantu sesama kita dalam meningkatkan asupan yang bergizi.
Tema HPS tahun ini, yaitu memberi perhatian pada pangan lokal. Pangan lokal adalah tanaman pangan asli negeri. Sekarang ini, pangan lokal bukanlah tuan rumah di negeri sendiri. Padahal, harus diakui pangan lokal memiliki nilai gizi yang tidak kalah. Sudah terbukti dari nenek moyang kita zaman dahulu.
Memperingati HPS kali ini, Gereja Katolik Keluarga Kudus Pasar Minggu mengadakan kegiatan makan bersama umat paroki di halaman gereja. Berbagai hidangan tradisional disiapkan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia, Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi dan juga wilayah. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan semangat baru bagi umat untuk mencintai panganan lokal, terutama bagi anak anak dan generasi muda. Menjadi pagi yang semarak untuk bersilaturahmi dan bertegur sapa.
Selamat Hari Pangan Sedunia, Tuhan memberkati.
(KOMSOS/MARIA NATALI MALKAN)