PEMBERITAHUAN

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus, menanggapi pandemi terkait Covid-19 dan mengacu pada Surat Keputusan dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) No 159/3.5.1.2/2020 tertanggal 19 Maret 2020. Dewan Paroki Pasar Minggu atas arahan Keuskupan Agung Jakarta, Pemerintah dan atas bimbingan Roh Kudus memutuskan:

1. Selama 15 hari, mulai tanggal 20 Maret sd 3 April 2020, semua kegiatan kegerejaan yang mengumpulkan banyak orang berikut ini DITIADAKAN:
a. Misa Mingguan dan Misa harian.
b. Semua kegiatan kerohanian bersama: misa lingkungan, misa ujub, renungan APP, pertemuan lingkungan, Jalan Salib, pertemuan kategorial dan kelompok doa.
c. Rapat-rapat, latihan-latihan dan gladi persiapan Pekan Suci.
d. Perihal Sakramen Pengampunan Dosa (Absolusi Umum) dan segala aktifitas pastoral paroki (lihat. Surat Himbauan KAJ tertanggal 17 Maret 2020 dan petunjuk praktis PAroki Pasar Minggu tertanggal 19 Maret 2020).

2. Dengan semangat Gembala Baik dan Murah Hati, para imam tetap memberikan pelayanan kebutuhan rohani dan sakramental Umat Allah dengan memperhatikan kondisi dan ketentuan yang ada.

3. Seluruh umat diajak untuk terus mewujudkan bela rasa kepada mereka yang membutuhkan, terutama bagi keluarga-keluarga pra sejahtera.

Dalam situasi keprihatinan ini, janganlah takut. Berkat Kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga, komunitas, dan masyarakat kita. Marilah menjaga kesehatan dan memelihara kehidupan bersama. Kita saling mendoakan dalam perlindungan Keluarga Kudus. Keputusan selanjutnya selalu disesuaikan dengan kondisi dan situasi terbaru.

Sumber: Dewan Paroki Pasar Minggu

Masuk Zona Resiko

SAYA pernah mendengar dari Bapak Uskup mengenai istilah ‘masuk zona resiko’. Saya kemudian mengartikan ‘masuk zona resiko’ sebagai sebuah usaha manusia untuk memasuki situasi yang penuh dengan tantangan. Masuk zona resiko menurut hemat saya membutuhkan keberanian. Masuk zona resiko merupakan sebuah pilihan hidup. Orang memilih untuk menerima tantangan daripada sekedar diam berpangku tangan menikmati kondisi stabil yang membuatnya nyaman. Orang harus siap menghadapi situasi yang tidak nyaman dalam hidupnya. Hal ini dilakukan karena ada sesuatu yang bernilai yang patut diperjuangkan.

Kitab Kejadian yang dibacakan pada Minggu Prapaskah II berkisah tentang Abraham yang dipanggil dan diutus oleh Allah. Abraham dapat dikatakan masuk zona resiko ketika menanggapi panggilan Allah. Ia meninggalkan rumah dan negerinya karena Allah berfirman kepadanya dan berjanji: “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu, pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan padamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau” (Kej 12:1-2). Allah memanggil Abraham untuk keluar dari rasa aman dan nyaman untuk menjadi berkat bagi sesama; atau mungkin ada yang mengistilahkan, Abraham keluar dari zona nyaman. Ia meninggalkan negeri dan sanak saudaranya.

Kita terkadang dalam hidup ini masuk ke situasi yang tidak nyaman atau dengan kata lain kita berupaya keluar dari zona nyaman dan masuk zona resiko. Makna keluar dari zona nyaman di masa Prapaskah ini salah satu caranya yaitu dengan bermatiraga, berpantang dan puasa. Kita yang mungkin terbiasa makan makanan kesukaan, lalu berusaha pantang makanan tersebut. Pantang dan puasa dapat melatih diri kita untuk peka kepada kebutuhan sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Kita perlu mengusahakan belarasa kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan berkebutuhan khusus. Melalui matiraga di masa Prapaskah ini, ada sebuah nilai baik yang hendak kita perjuangkan. Kita makin dekat dengan Allah, sehingga makin cinta kepada Allah dan sesama. Semoga dengan berbelarasa kepada sesama yang membutuhkan, kita dapat menjadi berkat bagi sesama.

 (RD. Antonius Pramono)

Pembaruan

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, salam SUKACITA!

Kita bersama mengenal istilah “pembaruan”. Gereja mengenal ada yang namanya pembaruan janji baptis, pembaruan kaul, pembaruan janji perkawinan. Dalam hidup sehari-hari seringkali kita juga melakukan pembaruan. Ketika kita membuka aplikasi di smartphone, seringkali ada pengingat yang memberitahu kita untuk memperbarui (update) sistem aplikasi tersebut.

Kata pembaruan sebenarnya tidak jauh dari hidup kita. Dalam bacaan Injil Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Tidak ada satu iota atau satu titik pun akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat 5: 17)

Ajaran-ajaran Yesus bukan untuk menggantikan hukum yang sudah dihidupi oleh murid-murid-Nya, melainkan untuk menggenapi, memperbarui, mengupdate hukum itu sendiri. Mengapa perlu diperbarui, digenapi?

Hukum itu harus digenapi agar orang-orang tidak jatuh pada formalisme agama, yaitu yang penting tidak melanggar hukum dan aturan beragama. Penggenapan atau pembaruan hukum yang dilakukan oleh Yesus mengajak kita untuk sungguh-sungguh menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam hukum tersebut. Kita berbuat baik bukan karena takut akan hukuman, melainkan karena ada nilai luhur yang dihayati. Kita menabung di celengan Yesus Tuna Wisma bukan hanya sekedar kewajiban atau perbuatan baik, melainkan persembahan diri untuk Tuhan.

Kita tidak mau ketinggalan zaman, maka pada hari HUT Paroki Pasar Minggu ini, kita diajak untuk senantiasa memperbarui diri, senantisa menggenapi hidup kita sehingga menjadi Gereja yang semakin mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Selamat.

 RD. A. Subekti