Protokol Adaptasi Kebiasaan Baru

UMAT Paroki Pasar Minggu sudah dapat mendaftar misa putaran kedua yang dilaksanakan mulai tanggal 30 Agustus 2020 di web belarasa.id dengan jadwal dan giliran sebagai berikut :

  • Tanggal 30 Agustus 2020 : Wilayah I
  • Tanggal 6 September 2020 : Wilayah II
  • Tanggal 13 September 2020 : Wilayah III
  • Tanggal 20 September 2020 : Wilayah IV
  • Tanggal 27 September 2020 : Wilayah V

Misa dilaksanakan pukul 10.00 WIB dan mengikuti persyaratan dalam mengikuti misa kenormalan baru di Paroki Pasar Minggu:

1. Dalam keadaan SEHAT (tidak demam / batuk / pilek / sakit tenggorokan / sesak / sakit berat [diabetes, jantung, dll])

2. Anak-anak (dibawah 18 tahun) dan umat lanjut usia (diatas 59 tahun) mengikuti ibadah di rumah.

3. Terdata sebagai umat di Paroki Pasar Minggu, Keluarga Kudus (sesuai dengan data BIDUK).

4. Sudah terdaftar untuk dapat mengikuti Misa Mingguan dan Misa Harian menggunakan Website BELARASA dari KAJ.

5. Membawa peralatan kesehatan masing-masing (masker, hand sanitizer, dan tisu).

6. Tidak mengenakan perlengkapan kesehatan berlebihan (topi anti Corona, sarung tangan, baju hazmat, dll).

7. Tidak membuang sampah tisu di area Gereja.

8. Membawa perlengkapan ibadah masing-masing (termasuk Puji Syukur).

9. Masker dipakai sejak keluar dari rumah dan selama berada di lingkungan Gereja.

10. Tidak melakukan kontak fisik dengan umat lain seperti bersalaman atau berpelukan.

11. Selalu menjaga jarak minimal 1 (satu) meter dengan orang di sekelilingnya.

12. Mematuhi segala Prosedur & Panduan Praktis Pelayanan Sakramen dalam Masa Tatanan Kehidupan Baru.

13. Umat diharapkan langsung kembali ke rumah segera setelah selesai Misa.

Bagaimana tata cara beribadah saat masa new normal di Gereja Paroki Pasar Minggu?

Saksikan video sosialisasi umat dalam mengikuti misa new normal di Gereja Paroki Pasar Minggu sesuai protokol kesehatan untuk keamanan dan kebaikan kita bersama.  Tuhan memberkati 🙏

Kita Dipanggil untuk Berbelarasa

HARI Minggu ini pasti menjadi hari Minggu yang paling berharga bagi kita mengingat penegasan yang di buat oleh pemda DKI yang akan menarik Rem Darurat penanganan Covid-19 untuk kembali menjalankan PSBB ketat per 14 September 2020. Berita ini dapat menjadi berita yang kurang menggembirakan bagi kita karena pembatasan tersebut membuat kita akan kembali melakukan segala aktifitas dari rumah.

Akan tetapi, tindakan ini diperlukan mengingat bahwa kasus covid di negara kita melonjak naik dan yang menjadi salah satu terbesar itu terdapat di Jakarta. Suatu keputusan yang perlu dimaklumi untuk menghadapi pandemi tersebut. Pada bacaan kedua minggu ini yang diambil dari kitab Roma dikatakan bahwa “tidak ada seorang pun diantara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Roma 14:7). Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mampu berbelarasa. Belarasa masa pandemi ini dapat kita lakukan dengan menjalankan anjuran pemerintah yaitu tetap dirumah.

Pada sebuah pengalaman ketika keluar rumah, saya melihat ada orang yang tidak memakai masker dan kemudian orang tersebut ditegur oleh orang yang berada disampingnya bukan dengan kata-kata, melainkan dengan dia memberikan masker kepada orang tersebut. Saya melihat pengalaman itu merasakan bahwa teguran itu merupakan teguran kasih. Teguran yang mampu menyentuh hati nurani dan batin seseorang. Saya membayangkan apabila orang tersebut memaki orang yang tidak memakai masker itu, pasti saya tidak akan melihat suatu teguran kasih, pasti akan yang lain dan berefek konflik. Bacaan Injil hari ini juga menghatar kita untuk mampu berbelarasa dalam hal mengampuni. “Bukan Tujuh Kali melainkan Tujuh puluh kali Tujuh Kali”.

Fr. Nando Sitohang

Kasih kepada Saudara

KITA telah memasuki bulan September yang kita kenal dengan Bulan Kitab Suci Nasional. Gereja Katolik mengharapkan kita lebih menekuni kitab suci dalam bulan ini. Kitab Suci sungguh berguna bagi hidup kita. Bila kita membutuhkan makanan untuk fisik kita setiap hari, maka untuk hidup rohani, kita memerlukan sabda Tuhan guna menguatkan hidup kita.
Sabda Tuhan amat berguna bagi hidup sehari-hari, seperti sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa XXIII yang menyatakan: “Bila saudaramu berbuat dosa, tegurlah” (lih. Mat 18:15-20). Dalam kitab suci dipakai kata “Saudara” bukan “sesama”. ‘Sesama’ artinya berkaitan dengan hidup bermasyarakat, sedangkan kata ‘Saudara’ kaitannya dengan lingkungan sendiri. Lebih diutamakan sikap saling bertanggungjawab, saling memperhatikan kebutuhan seperti layaknya keluarga sendiri.

Kata “menegur” sebaiknya diganti dengan “jelaskanlah/tunjukkanlah”. Kata ‘menegur’ itu berarti ‘mencela’, ‘mengecam’. Tujuan berbicara kepada saudara yang bersalah adalah untuk menyadarkannya. Kita sebagai saudara ikut bertanggungjawab kepada saudara kita yang berdosa atau bersalah. Bacaan Pertama yang diambil dari Yehezkiel 33:7-9 menyadarkan kita: “Kalau kita tidak mengingatkan saudara kita maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban kita. Tapi jika kita memperingatkannya untuk bertobat, tapi dia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tapi kita selamat”.

Usaha untuk menyadarkan kembali saudara yang sesat hendaknya dilandasi dengan kasih. Ada satu dasar yang penting untuk membantu saudara kita yang berdosa, yaitu : Kasih. Bacaan kedua dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma menyebutkan: “Hendaklah kamu saling mengasihi…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…Kasih tidak berbuat jahat kepada sesama” (lih. Roma 13:8-10). Kasih kepada saudara ditunjukkan dengan memberi perhatian kepada saudara. Kasih kepada saudara hendaknya memberanikan kita untuk mengarahkan saudara kita kepada hidup yang baik dan benar seturut dengan sabda Allah.

Ada beberapa cara untuk menyadarkan saudara kita. Pertama, bicara 4 mata. Bicara dari hati ke hati. Kedua, membawa satu atau 2 orang untuk membantu menyadarkan. Ketiga, membuka perkara itu kepada jemaat untuk membantu meyakinkan. Proses ini dilakukan tanpa mengomeli, memarahi, menghukum, dan menolak saudara yang bersalah, sebaliknya ia didekati dengan halus agar dapat kembali sadar. Semangat yang perlu dibawa adalah : “gembala yang mencari domba yg sesat” dan jangan sampai ada umat Kristen yg hilang. Mungkin saudara yang berdosa menolak mengakui kesalahannya. Akibatnya dosa masih melekat padanya atau mengikatnya. Tapi justru orang-orang berdosa ini yang dicari Yesus untuk diselamatkan.

RD. Antonius Pramono

Batu Sandungan

SALAH satu tugas menarik saat bertugas di Paroki Bomomani, Papua adalah membersihkan batu-batu yang menyumbat saluran pipa air PLTA. Suatu hari kami berniat untuk memindahkan batu besar yang berada di tengah sungai kecil. Oleh karena dilakukan secara manual, maka apa daya proses ini membutuhkan waktu berhari-hari. Pertama kami harus membendung sungai itu, kemudian menggali sekeliling batu besar, dan akhirnya mendorong batu itu ke pinggir. Mengapa kami berniat untuk memindahkannya? Karena batu itu menghalangi aliran air sungai sehingga turbin PLTA tidak berputar kencang.

Hari ini Petrus yang minggu lalu disebut sebagai batu karang disebut oleh Yesus sebagai batu sandungan. Petrus memikirkan bukan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus memikirkan bahwa Mesias tidak dapat dikalahkan, tidak menanggung banyak penderitaan, tidak akan mati. Petrus masih memikirkan hal tersebut walaupun Yesus sudah menyatakan kepada murid- murid-Nya bahwa Ia harus menderita. Mesias harus kehilangan nyawa untuk keselamatan manusia.

Disadari atau tidak, terkadang kita menjadi batu sandungan, batu sumbatan bagi diri kita sendiri. Kita senantiasa memikirkan diri sendiri, enggan memikul salib, dan kadang kala tidak mau mengikuti kehendak Allah. Menjadi murid Yesus berarti menyerahkan diri kepada kehendak-Nya, bukan lagi mengandalkan kekuatan manusia melainkan percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Kita tentu ingin merasakan kasih Allah setiap saat, tetapi bercerminlah, jangan-jangan kita yang menolak kasih Allah itu.

Rm. Andreas Subekti