Aku Haus

Salib_8

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, salam SUKACITA!

Pasti kita sudah fasih betul dengan perumpamaan Garam dan Terang yang diungkapkan oleh Yesus dalam bacaan Injil. Yesus memang dengan tegas menekankan itu – KAMU ADALAH GARAM DUNIA, KAMU ADALAH TERANG DUNIA.

Saudari-saudara terkasih, kita pasti pernah menyantap keripik kentang atau camilan yang asin-asin. Sungguh nikmat rasanya sehingga tidak akan berhenti kalau belum habis. Tetapi ketika kita menyantap sesuatu yang asin itu, tenggorokan kita sudah terasa kering dan haus. Mengapa demikian? Karena, zat sodium dari garam memicu badan kita untuk mengirimkan rasa haus ke otak.

Menjadi garam berarti kita juga diajak untuk membuat orang-orang di sekitar kita menjadi haus akan Sabda Allah, haus untuk berjumpa dengan Allah dalam hidupnya, haus untuk mencari Sumber Air yang Hidup. Maka, kita senantiasa diajak untuk menjadi garam yang menghauskan orang lain untuk mencari dan berjumpa dengan Yesus Kristus.

Kita juga diutus menjadi terang dunia. Ketika ada terang tentu kita dapat melihat segalanya dengan jelas. Bayangkan ketika tidak ada cahaya lampu di malam hari, semua gelap gulita dan kita tidak dapat melihat apa-apa. Maka, menjadi terang berarti kita memantulkan Cahaya Kristus kepada orang lain. Terang yang kita pantulkan itu tentu menghalau kegelapan hati dan jiwa orang di sekitar kita, dan mengungkap kebenaran di tengah dunia yang gelap ini.

Menjadi terang berarti kita membantu orang lain untuk melihat kebenaran dan membantu untuk melihat karya Allah dan mengikuti kehendak-Nya dalam hidup manusia. Semoga kita semakin menjadi Garam dan Terang Dunia agar setiap orang yang kita jumpai merasa haus untuk berjumpa dengan Allah dan melihat segala kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari.

RD. A. Subekti

Yesus yang Tak Terkira

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, salam SUKACITA!

Hari ini, kita mendengar sebuah pujian atau kidung yang dinyanikan oleh Simeon. Gereja juga senantiasa mengidungkan Kidung Simeon ini dalam ibadat malam (completorium).

Kidung Simeon, “Sekarang Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Luk 2: 29-32)

Simeon (dan Hana) adalah seorang yang benar dan saleh hidupnya. Mereka berdua senantiasa datang, berpuasa dan berdoa di Bait Allah. Mereka senantiasa berada di Bait Allah untuk menantikan kedatangan Mesias. Simeon dan Hana menunggu saat mereka berjumpa dengan Sang Juruselamat. Sepanjang hidup, Simeon dan Hana telah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk berjumpa dengan Tuhan. Persiapan ini dilakukan senantiasa karena mereka sendiri tidak tahu kapan atau bagaimana perjumpaan ini akan terjadi.

Roh Kudus telah mendampingi mereka untuk mempersiapkan diri berjumpa dengan Allah. Roh Kudus memampukan Simeon dan Hana untuk melihat keagungan Allah dalam diri kanak-kanak Yesus yang dibawa oleh Maria dan Yosef ke bait Allah. Marilah saudari-saudara sekalian kita mempersiapkan diri senantiasa untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus.

Kadang perjumpaan dengan Yesus tidak akan pernah kita tebak. Kita dapat saja menjumpai Yesus dalam diri mereka yang sakit, yang hina dina, yang terpenjara, yang miskin, yang difabel, yang telanjang. Semoga kita senantiasa mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus kapan pun dan di mana pun agar damai sejahtera selalu menyertai kita.

RD. A. Subekti

Makna Pembaptisan

wpid-bndat9blgv6rmplh45ejown02msoactssutxzicjf3gnci_aai3nhfmj3rb6_7tnikjdujlxapsvx8ifoezmys_wpysycww512-h288-nc

PESTA Pembaptisan Tuhan yang kita rayakan hari ini mengakhiri lingkaran Natal dalam kalender liturgi. Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan adalah permulaan tugas Yesus untuk melayani orang-orang. Semua orang diajak untuk mendengarkan Dia. Semoga kita mampu mendengarkan Tuhan yang hadir ditengah-tengah kita dalam perjalanan hidup kita pada hari-hari mendatang.

Ketika Yesus dibaptis, Roh Allah turun ke atas-Nya. Yesus sudah mendapat Roh Allah agar dapat memulai pelayanan-Nya. Kita yang sudah dibaptis diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena kita anak-anak Allah maka pastinya Allah sungguh mengasihi kita. Lalu apa makna pembaptisan bagi kita. Dengan Pembaptisan, kita mendapat Roh Kudus. Kita juga dinyatakan sebagai anak-anak Allah. Ini berarti, kita pun sangat dikasihi oleh Allah. Bila kita sungguh menyadari betapa kita ini sangat berharga dan dikasihi Allah, mestinya kita menjadi orang yang tidak pernah takut lagi menjalankan tugas kita betapa pun sulitnya tugas itu. Kita dapat terus menyadari bahwa Allah mengasihi kita. Maka kita pun siap menghadapi keadaan apa pun dalam hidup ini.

Para Bapa Gereja memberi pandangan mengenai pembaptisan yang dapat memperkaya kita untuk memahami makna pembaptisan.

1. Didache, Pengajaran para Rasul (80-160), mengajarkan untuk “membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.”

2. Santo Agustinus (354-430), melalui Enchiridion, mengatakan bahwa Sakramen Pembaptisan menunjukkan kematian diri kita terhadap dosa bersama Kristus, dan kebangkitan kita bersama Dia ke dalam kehidupan yang baru.

3. Santo Ambrosius (338-397), melalui On Repentance, menjelaskan bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Allah mau dan mampu mengampuni dosa kita, meskipun kita berpikir bahwa dosa tidak dapat diampuni. Sebab kelihatannya mustahil bahwa air dapat menghapuskan dosa, namun hal yang tidak mungkin ini dibuat menjadi mungkin oleh Allah.

 (RD. Antonius Pramono)