HUT Paroki Pasar Minggu ke-53

TANGGAL 12 Februari 2020 lalu, Paroki kita genap berusia 53 tahun. Perayaannya dilakukan saat misa kudus kedua Minggu, 16 Februari 2020. Misa dipimpin oleh Romo Kepala Paroki Pasar Minggu Rm. Antonius Pramono Wahyu Nugroho. Turut hadir pada kesempatan itu, Rm. Joseph Biondi Mattovano, Diakon Carmellus Delelis da Cucha, dan Fr. Agustinus Richard Banu Sadin.

Dalam sambutannya, Rm. Pram begitu ia akrab disapa, mengucapkan selamat ulang tahun kepada seluruh umat di Paroki Pasar Minggu. Ucapan selamat juga ditujukan kepada umat yang telah bergiat dalam menghidupkan berbagai kegiatan di gereja, baik dalam kegiatan berliturgi dan berbagai kegiatan organisasi pelayanan antar umat di gereja.

Mengenang lahirnya gereja Keluarga Kudus ini, tentu saja tidak melupakan umat pertama di Gereja kita ini. Sebagian diantaranya bisa hadir dalam perayaan ulang tahun paroki tahun ini. Menambah kegembiraan dan rasa syukur atas penyertaan Allah dalam perjalanan tumbuhnya gereja kita ini. Romo Pram berharap gereja kita ini bisa semakin tumbuh dalam tangan kaum muda dan melanjutkan perjalanan hidup gereja kita ke depannya.

Perayaan ulang tahun Paroki Pasar Minggu ke-53 ini dimeriahkan juga dengan acara tiup lilin dengan menikmati kue bersama para umat yang hadir dalam misa pagi itu. (KOMSOS/MARIA NATALIA MALKAN)

 

Aku Haus

Salib_8

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, salam SUKACITA!

Pasti kita sudah fasih betul dengan perumpamaan Garam dan Terang yang diungkapkan oleh Yesus dalam bacaan Injil. Yesus memang dengan tegas menekankan itu – KAMU ADALAH GARAM DUNIA, KAMU ADALAH TERANG DUNIA.

Saudari-saudara terkasih, kita pasti pernah menyantap keripik kentang atau camilan yang asin-asin. Sungguh nikmat rasanya sehingga tidak akan berhenti kalau belum habis. Tetapi ketika kita menyantap sesuatu yang asin itu, tenggorokan kita sudah terasa kering dan haus. Mengapa demikian? Karena, zat sodium dari garam memicu badan kita untuk mengirimkan rasa haus ke otak.

Menjadi garam berarti kita juga diajak untuk membuat orang-orang di sekitar kita menjadi haus akan Sabda Allah, haus untuk berjumpa dengan Allah dalam hidupnya, haus untuk mencari Sumber Air yang Hidup. Maka, kita senantiasa diajak untuk menjadi garam yang menghauskan orang lain untuk mencari dan berjumpa dengan Yesus Kristus.

Kita juga diutus menjadi terang dunia. Ketika ada terang tentu kita dapat melihat segalanya dengan jelas. Bayangkan ketika tidak ada cahaya lampu di malam hari, semua gelap gulita dan kita tidak dapat melihat apa-apa. Maka, menjadi terang berarti kita memantulkan Cahaya Kristus kepada orang lain. Terang yang kita pantulkan itu tentu menghalau kegelapan hati dan jiwa orang di sekitar kita, dan mengungkap kebenaran di tengah dunia yang gelap ini.

Menjadi terang berarti kita membantu orang lain untuk melihat kebenaran dan membantu untuk melihat karya Allah dan mengikuti kehendak-Nya dalam hidup manusia. Semoga kita semakin menjadi Garam dan Terang Dunia agar setiap orang yang kita jumpai merasa haus untuk berjumpa dengan Allah dan melihat segala kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari.

RD. A. Subekti

Yesus yang Tak Terkira

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, salam SUKACITA!

Hari ini, kita mendengar sebuah pujian atau kidung yang dinyanikan oleh Simeon. Gereja juga senantiasa mengidungkan Kidung Simeon ini dalam ibadat malam (completorium).

Kidung Simeon, “Sekarang Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Luk 2: 29-32)

Simeon (dan Hana) adalah seorang yang benar dan saleh hidupnya. Mereka berdua senantiasa datang, berpuasa dan berdoa di Bait Allah. Mereka senantiasa berada di Bait Allah untuk menantikan kedatangan Mesias. Simeon dan Hana menunggu saat mereka berjumpa dengan Sang Juruselamat. Sepanjang hidup, Simeon dan Hana telah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk berjumpa dengan Tuhan. Persiapan ini dilakukan senantiasa karena mereka sendiri tidak tahu kapan atau bagaimana perjumpaan ini akan terjadi.

Roh Kudus telah mendampingi mereka untuk mempersiapkan diri berjumpa dengan Allah. Roh Kudus memampukan Simeon dan Hana untuk melihat keagungan Allah dalam diri kanak-kanak Yesus yang dibawa oleh Maria dan Yosef ke bait Allah. Marilah saudari-saudara sekalian kita mempersiapkan diri senantiasa untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus.

Kadang perjumpaan dengan Yesus tidak akan pernah kita tebak. Kita dapat saja menjumpai Yesus dalam diri mereka yang sakit, yang hina dina, yang terpenjara, yang miskin, yang difabel, yang telanjang. Semoga kita senantiasa mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus kapan pun dan di mana pun agar damai sejahtera selalu menyertai kita.

RD. A. Subekti