Gunakan Hak Pilih, Bagian dari Iman

52852261_812779299088442_8375541558434332672_o
ASTRI/KOMSOS

INDONESIA akan menjalani babak baru praktik demokrasi dengan penyelenggaraan Pemilu serentak 2019, yang terdiri dari pemilihan presiden dan wakil presiden digabung dengan pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Merupakan pekerjaan rumah besar bagi penyelenggara Pemilu untuk mensosialisasikan tata cara pencoblosan surat suara. Jika pada Pemilu 2019 lalu hanya ada 3 surat suara, maka dalam Pemilu 2019 mendatang akan ada 4 surat suara yang wajib diisi oleh pemilih.

Dalam Sosialisasi Pemilu 2019 yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Berhikmat di GRHA Keluarga Kudus Paroki Pasar Minggu, Minggu (3/3) kemarin, Pastor Kepala Paroki Pasar Minggu RD. Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr mengajak seluruh umat Katolik untuk menggunakan hak pilihnya pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Romo Inung, begitu ia akrab disapa, mengutip pernyataan Mgr Suharyo bahwa menggunakan hak pilih merupakan bagian perwujudan dan pertanggungjawaban iman dan keberadaan sebagai warga negara yang baik.

“Keikutsertaan kita dalam peristiwa itu (Pemilu 2019) adalah perwujudan iman kita dan salah satu tanda bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang berhikmat dalam membangun Indonesia semakin bermartabat,” ujarnya.

Hadir pada kesempatan itu Sekretaris Komisi Kerasulan Awam KWI Romo Paulus Christian Siswantoko, Pr, Pengamat Sosial dan Politik Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dan Ketua KPU Jakarta Selatan Agus Sudono sebagai narasumber. Diskusi tersebut mengambil tema Ayo Memilih! Suara Kita Untuk Bangsa: Menuju Indonesia Semakin Sejahtera.

53098675_812778772421828_1203837860864589824_o
ASTRI/KOMSOS

Romo Sis dalam pemaparannya membahas soal keterlibatan gereja dalam Pemilu. Ia menyebutkan bahwa politik itu sesungguhnya suatu hal yang baik, sedangkan yang buruk adalah pelakunya. Dalam pesta demokrasi lima tahunan itu, sambung dia, seluruh pihak diajak untuk turut berpartisipasi. Bukan sebaliknya, tidak memilih atau golput.

“Kehadiran kita penting untuk memilih orang baik. Saya yakin bapak ibu adalah orang yang baik, maka pilihlah orang baik. Jangan sampai yang masuk adalah orang-orang yang hanya mengejar kekayaan, pencari pekerjaan, diskriminasi dan sebagainya,” paparnya.

Tak hanya sekedar menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2019, Romo Sis juga mengajak umat Katolik Paroki Pasar Minggu untuk terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan sekitar, seperti RT dan RW.

“Kita tidak bisa hanya sebagai penonton. Maka saatnya kita ikut memperbaiki bangsa ini. Apalagi kita hidup dan mati di Indonesia. Ingat, firman Tuhan. Terlibat dalam politik juga ada dasarnya loh,” imbuhnya.

Sebagaimana yang tertuang dalam Matius 22: 21 yang menyebut “Jawab mereka: Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Tak hanya itu, dalam Matius 5:13-14, Yesus pun menghendaki agar umat Katolik menjadi terang dan garam dunia. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

“Kita diajak untuk berpikir tidak hanya untuk kepentingan kita saja. Suara kita (di Pemilu 2019) mungkin tidak berdampak pada kita. Tapi justru berdampak pada orang lain. Masyarakat yang masih hidupnya terlunta-lunta akan mendapatkan dampaknya. Suara kita bisa untuk memilih orang baik sehingga bisa membuat nasib orang lain menjadi baik. Orang baik, hanya bisa jadi pemimpin kalau kita pilih,” tegasnya.

Lantas, bagaimana cara memilih orang baik dari ribuan calon anggota dewan?

Romo Sis mengimbau agar umat Katolik berani memilih kandidat yang tidak ideal. Tidak ideal yang ia maksud adalah yang keburukannya sedikit. Selain itu, Romo Sis juga mengajak umat Katolik untuk berani menolak politik uang. Menurutnya, untuk memerangi politik uang harus dimulai dari diri sendiri.

“Tentu kita tidak bisa memilih yang sempurna. Tetap memilih yang cacatnya sedikit untuk kita jadikan sarana aspirasi kita. Jangan bilang tidak ada yang ideal, lantas tak mau milih,” pungkasnya.

54200970_812778979088474_635619288241143808_o
ASTRI/KOMSOS

Senada dengan Romo Sis, Prof. Komaruddin juga mengajak semua pihak untuk menjadi pemilih aktif dalam Pemilu 2019. Bila ada oknum-oknum elit yang sering menyalahgunakan jabatannya, menurut dia bukan jadi alasan seseorang untuk tidak memilih atau golput.

“Yang dibasmi itu ‘kecoaknya’, bukan ‘rumahnya’. Sama saja, kalau ada penyimpangan, kita yang teriak, bukan membakar rumah Indonesia,” terangnya.

53742556_812779139088458_8683099661080199168_o
ASTRI/KOMSOS

Agus Sudono dalam pemaparannya menjelaskan secara singkat prosedur nyoblos di tempat pemungutan suara (TPS). Agus mengingatkan kepada calon pemilih agar memastikan bahwa dirinya sudah terdaftar dalam DPT Pemilu 2019 dan memiliki E-KTP. Setelah itu, calon pemilih diimbau untuk kenal bibit, bebet, bobot kandidat yang akan dipilihnya.

53874935_812779925755046_4768317325319340032_o
ASTRI/KOMSOS

“Sehingga saat datang ke TPS sudah tahu mau nyoblos siapa. Pesan KPU, jangan sampai agenda 5 tahun sekali ini dilupakan ya. Jangan ke luar negeri atau malah liburan saat tanggal 17 April besok. Hanya 5 menit kok,” pungkasnya. (ASTRI/KOMSOS)

Semakin Kenal Lewat Program Discovery

WhatsApp Image 2019-02-11 at 06.35.42
PHOTO by Prinsovina

ADA pepatah, tak kenal maka tak sayang. Dengan kata lain, jika kita semakin mengenal, maka kita akan semakin menyayangi. Hal inilah yang menjadi salah satu kunci kelanggengan sebuah perkawinan.

Sebelum calon pasangan menempuh Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), yang kini disebut Membangun Rumah Tangga (MRT), ada baiknya mengikuti Program Discovery. Program yang digagas oleh Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki Pasar Minggu bertujuan untuk lebih saling mengenali pasangannya. Harapannya, seperti pepatah di atas, perkawinan yang akan mereka jalani sungguh menjadi perjalanan panjang yang penuh dengan rasa sayang.

WhatsApp Image 2019-02-11 at 06.35.41
PHOTO by Prinsovina

“Biar semakin kenal dirinya dan pasangan. Jadi ketika ikut Membangun Rumah Tangga (MRT) tidak kaget, dan mikir ‘kok gitu ya?’ Harapannya sudah saling kenal sehingga ketika nanti berumahtangga bisa menjadi keluarga Katolik seutuhnya yang hanya terpisahkan oleh maut,” ujar Ketua SKK Paroki Pasar Minggu Enda Mulyanto saat berbincang dengan KOMSOS.

Sebanyak 12 pasangan muda-mudi yang tengah berpacaran mengikuti Program Discovery di GRHA Keluarga Kudus Pasar Minggu, Sabtu (26/1) lalu. Acara yang terbuka untuk umum ini dikemas dengan sangat menarik. Para peserta mendapatkan banyak pengalaman berharga dari para share bearer, mulai dari bagaimana mengenali pasangannya, bagaimana berkomunikasi, dan lain-lain. Para peserta juga berdiskusi dalam kelompok yang dipandu oleh para share bearer tersebut. Antusiasme peserta sungguh dirasakan.

WhatsApp Image 2019-02-11 at 06.35.43
PHOTO by Prinsovina

“Program ini tidak wajib. Sementara MRT bersifat wajib karena selanjutnya sertifikat/buku MRT digunakan untuk penyelidikan kanonik,” paparnya.

Program ini baru pertama kali dilaksanakan di Paroki Pasar Minggu dan rencananya akan rutin diadakan oleh SKK Paroki Pasar Minggu.

“Karena Program Discovery yang dilaksanakan Paroki Pasar Minggu adalah perdana, dan belum bisa dilaksanakan secara mandiri, maka kami mendapat bantuan dari KomKK KAJ dan beberapa fasilitator dan share bearer dari paroki lain yang sudah bersertifikat,” tandasnya.

WhatsApp Image 2019-02-11 at 06.35.42(1)
PHOTO by Prinsovina

Oleh karena itu, SKK Paroki Pasar Minggu akan memberikan kesempatan kepada pasangan muda untuk ikut pelatihan share bearer/fasilitator dari KomKK KAJ yang dijadwalkan pada 16-17 Februari 2019 di GKP Bidaracina dan 20-21 Juli 2019 di GKP Kedoya.

“Kami akan mengirimkan 5 pasang dan SKK akan mensubsidi 50% biaya keikutsertaannya. Sampai saat ini baru terdaftar 1 pasang peserta. Bantu sebarkan ya informasi ini, agar yang berminat bisa mendaftar,” pungkasnya. (ASTRI/KOMSOS)