Bersatu dengan Tuhan

               17-jan-2016-renhar

SALAH satu bentuk pesta yang sering dihadiri oleh warga masyarakat adalah pesta perkawinan. Biasanya suatu pesta perkawinan dipersiapkan dari jauh hari sebelumnya. Harapannya, perayaan tersebut bisa berlangsung sesempurna mungkin dengan makanan dan minuman yang tersedia dan cukup. Semua famili dan kenalan yang sudah diundang bisa hadir, tempat pesta yang baik dan sebagainya.

Pesta perkawinan menjadi suatu perayaan penting di dalam hidup, yang umumnya dilaksanakan satu kali bagi mereka yang dipanggil untuk bentuk panggilan hidup ini, kecuali kalau ada hal-hal lain yang tidak bertentangan dengan Gereja. Hal lain perlu diketahui bahwa pesta perkawinan adalah suatu rahmat Allah yang dilimpahkan kepada suami dan istri dalam bentuk hidup berkeluarga. Tuhan Allah memercayakan kepada mereka tanggung jawab dan kewajiban melalui panggilan suami istri, terlebih-lebih untuk kehidupan rohani dan pendidikan anak-anak yang adalah buah kasih mereka di dalam Tuhan.

Injil Yohanes hari ini membicarakan tentang pesta perkawinan di Kana. Tentu suasana pesta perkawinan kita di Indonesia sangat berbeda dengan di Kana tersebut. Adalah tradisi di daerah sana bahwa anggur adalah salah satu sarana pesta yang sangat penting. Oleh sebab itu, minuman ini selalu dicarikan yang terbaik pada saat perayaan tersebut untuk menambah kesemarakan. Dalam hal ini kita bisa mengerti bahwa Maria yang adalah juga orang yang perhatian akan kebutuhan-kebutuhan penting, meminta kepada Yesus untuk mengatasi permasalahan pelik yang sedang dihadapi oleh pemilik pesta. Maria tahu bahwa Yesus tidak akan membiarkan tuan rumah dipermalukan oleh masalah anggur yang habis. Maria tahu bahwa Yesus pasti bisa mengatasinya.

Pesta perkawinan ternyata adalah juga lambang kehidupan kekal, yaitu Kerajaan Surga yang adalah tujuan kita semua. Pertemuan kita kelak, yang adalah jiwa kita dengan Tuhan digambarkan dengan pesta perkawinan, tetapi bukan unsur-unsur tambahan pesta tersebut seperti makanan, minuman, kue tart, foto, undangan dan lain sebagainya tetapi pertemuan dua mempelai pria dan wanita. Jiwa kita adalah mempelai perempuan dan Tuhan adalah Mempelai laki-laki. Pertemuan antara jiwa dan Tuhan inilah pesta perkawinan kita yang sebenarnya, di mana kita bisa bersatu dengan-Nya yang sedang kita persiapkan selama hidup di dunia ini.

Sehubungan dengan pesta pernikahan ini, kita diperkaya oleh bacaan pertama dari Kitab Yesaya. Tuhan yang sedang mempersiapkan perkawinan kita dengan-Nya, menanti kita sampai kita kelak siap dengan pakaian pesta kawin. Jika saatnya telah tiba, maka kita ini menjadi mahkota keagungan Tuhan, serban Kerajaan Allah, mahkota keagungan tangan Tuhan. Saat itulah nama kita diubah, dalam arti kita ditransformasikan dari keadaan kita di dunia ini ke dalam keadaan Kerajaan Surga. Saat itulah kebenaran yang kita buat di dunia ini akan bersinar dan diperhitungkan Tuhan. Itulah sukacita jiwa kita dalam pesta perkawinan tersebut, karena ia bertemu dengan Mempelainya, yakni Tuhan. Tuhan Memberkati.

Renungan Hari Minggu Biasa II

Pastor Paroki Pasar Minggu Ajak Umat Memaknai Pesan Natal 2018

46403086842_cd3768fa45_z
KOMSOS/MARTINUS ADI

RATUSAN umat Katolik Paroki Pasar Minggu mengikuti misa malam Natal di Gereja Katolik Paroki Pasar Minggu. Perayaan natal tahun ini mengambil tema ‘Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita’. Romo Antonius Pramono Wahyu Nugroho, Pr yang memimpin misa malam Natal pada Senin (24/12) sore, memaknai hari kelahiran Yesus Kristus dengan membangun kepedulian terhadap ciptaan Allah.

Dia mengatakan pada perayaan Natal ini, umat diajak untuk peduli kepada sesama serta memberikan damai. Yesus selalu mendahulukan cinta kasih, tampil sebagai penyejuk, merangkul semua orang, dan hidup sederhana.

“Itulah hikmat Allah. Yesus telah mengajarkan kita untuk hidup mengasihi, rela berkorban demi kesejahteraan bersama. Agar kita menyadari untuk menjadi pribadi yang melayani bukan dilayani. Itu pesan singkat yang ingin disampaikan,” ujar Romo Pram.

Apabila sudah memiliki hikmat tersebut, maka umat Katolik pasti akan menyadari panggilannya yaitu menjadi berkat di tengah-tengah masyarakat dimana pun ia berada. Selain itu, umat Katolik wajib ikut menjaga dan merawat persatuan/kesatuan bangsa.

Makna Natal berikutnya ialah mengenai sukacita. Seperti yang tertulis pada Yesaya 51:11 “Maka orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai, sedang suakcita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh.”

Romo Pram mengingatkan sukacita tidak hanya berhenti kepada sebuah gegap gempita dengan sorak-sorai semata, tetapi harus berbuah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana bayi Yesus yang hadir di tengah-tengah kita dan membawa sukacita kepada semua orang.

“Tidak menghadirkan kebencian, melainkan damai sejahtera. Oleh karena itu kita tak hanya sekedar hadir tetapi hadir serta memberikan hati kita. Kita mau hadir bersama mereka memberikan kebahagiaan Natal. Semoga Natal membawa berkat kepada kita semua. Senantiasa sukacita semakin bertumbuh mulai hari ini,” pungkasnya.

46453761611_9c9ef6ee2b_z
KOMSOS/MARTINUS ADI

Pada misa malam natal, Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr mengajak umat Paroki Pasar Minggu merayakan Natal 2018 dengan cara yang sederhana di tengah keprihatinan bangsa atas bencana alam yang melanda wilayah Banten dan Lampung.

Ia mengisahkan Yesus yang dilahirkan di kandang domba di Betlehem karena saat itu seluruh penginapan telah penuh terisi. Dari kisah kelahiran itu, Romo Inung begitu ia akrab disapa, mengingatkan kembali tentang makna kesederhanaan.

“Yesus tidak lahir di tempat yang mewah, tetapi di kandang sederhana. Ia diletakkan di palungan. Sangat sederhana,” ujarnya.

Hendaknya kesederhanaan itulah yang harus dijadikan pedoman, tidak saja saat perayaan Natal, tetapi juga setiap saat. Sederhana itu bisa dilakukan dengan meninggalkan keinginan duniawi yang berlebihan dan bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan. (ASTRI/KOMSOS)