Pastor Paroki Pasar Minggu Ajak Umat Memaknai Pesan Natal 2018

46403086842_cd3768fa45_z
KOMSOS/MARTINUS ADI

RATUSAN umat Katolik Paroki Pasar Minggu mengikuti misa malam Natal di Gereja Katolik Paroki Pasar Minggu. Perayaan natal tahun ini mengambil tema ‘Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita’. Romo Antonius Pramono Wahyu Nugroho, Pr yang memimpin misa malam Natal pada Senin (24/12) sore, memaknai hari kelahiran Yesus Kristus dengan membangun kepedulian terhadap ciptaan Allah.

Dia mengatakan pada perayaan Natal ini, umat diajak untuk peduli kepada sesama serta memberikan damai. Yesus selalu mendahulukan cinta kasih, tampil sebagai penyejuk, merangkul semua orang, dan hidup sederhana.

“Itulah hikmat Allah. Yesus telah mengajarkan kita untuk hidup mengasihi, rela berkorban demi kesejahteraan bersama. Agar kita menyadari untuk menjadi pribadi yang melayani bukan dilayani. Itu pesan singkat yang ingin disampaikan,” ujar Romo Pram.

Apabila sudah memiliki hikmat tersebut, maka umat Katolik pasti akan menyadari panggilannya yaitu menjadi berkat di tengah-tengah masyarakat dimana pun ia berada. Selain itu, umat Katolik wajib ikut menjaga dan merawat persatuan/kesatuan bangsa.

Makna Natal berikutnya ialah mengenai sukacita. Seperti yang tertulis pada Yesaya 51:11 “Maka orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai, sedang suakcita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh.”

Romo Pram mengingatkan sukacita tidak hanya berhenti kepada sebuah gegap gempita dengan sorak-sorai semata, tetapi harus berbuah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana bayi Yesus yang hadir di tengah-tengah kita dan membawa sukacita kepada semua orang.

“Tidak menghadirkan kebencian, melainkan damai sejahtera. Oleh karena itu kita tak hanya sekedar hadir tetapi hadir serta memberikan hati kita. Kita mau hadir bersama mereka memberikan kebahagiaan Natal. Semoga Natal membawa berkat kepada kita semua. Senantiasa sukacita semakin bertumbuh mulai hari ini,” pungkasnya.

46453761611_9c9ef6ee2b_z
KOMSOS/MARTINUS ADI

Pada misa malam natal, Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr mengajak umat Paroki Pasar Minggu merayakan Natal 2018 dengan cara yang sederhana di tengah keprihatinan bangsa atas bencana alam yang melanda wilayah Banten dan Lampung.

Ia mengisahkan Yesus yang dilahirkan di kandang domba di Betlehem karena saat itu seluruh penginapan telah penuh terisi. Dari kisah kelahiran itu, Romo Inung begitu ia akrab disapa, mengingatkan kembali tentang makna kesederhanaan.

“Yesus tidak lahir di tempat yang mewah, tetapi di kandang sederhana. Ia diletakkan di palungan. Sangat sederhana,” ujarnya.

Hendaknya kesederhanaan itulah yang harus dijadikan pedoman, tidak saja saat perayaan Natal, tetapi juga setiap saat. Sederhana itu bisa dilakukan dengan meninggalkan keinginan duniawi yang berlebihan dan bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan. (ASTRI/KOMSOS)

Pembekalan Petugas Paduan Suara

WhatsApp Image 2018-11-19 at 22.27.49
KOMSOS/Martinus Adi Prabowo

KOOR merupakan penggerak umat dalam bernyanyi. Oleh karena itu, Seksi Liturgi memberikan pembekalan bagi petugas paduan suara lingkungan di Gereja Katolik Paroki Pasar Minggu, Minggu (18/11) kemarin. Tujuan dari kegiatan yang bertajuk “Musik Liturgi Membangun Harmoni dalam Paduan Suara Gereja” tersebut adalah meningkatkan suasana liturgi yang agung.

Materi yang diberikan meliputi pengetahuan tentang musik liturgi serta lokakarya dirigen.Salah satu pemateri yakni Ariwibowo menjelaskan dasar-dasar teknik dirigen. Ia menyebutkan bahwa seorang dirigen harus dapat memaksa penyanyi memperhatikan dirinya terutama gerakan tangannya. Selain itu, kata dia, ekspresi wajah juga penting dalam memberikan petunjuk kepada penyanyi apa yang diharapkan dari mereka.

“Lalu sikap badan harus punya wibawa di depan banyak orang sehingga harus berani. Kalau takut dan grogi nanti yang ada koornya juga grogi. Jadi harus rileks dan tenang,” pungkasnya.

WhatsApp Image 2018-11-19 at 22.27.02
KOMSOS/Martinus Adi Prabowo

Sementara itu, pembicara lainnya Ernest Mariyanto menjelaskan soal jenis-jenis musik, yaitu musik religi (musica religiosa), musik gereja (musica ecclesiastica), musik liturgi (musica liturgica), dan musik rohani. Keseluruhan jenis musik ini, kata Ernest, diakui memang tidak bisa dipisahkan secara tegas dan jelas.

“Ketika musik religi mengungkapkan pengalaman khusus umat agama tertentu, maka ia tidak lagi menjadi musik religi universal, tetapi menjadi musik yang khas umat agama yang bersangkutan,” ujarnya.

Satu hal yang ia tekankan pada kesempatan tersebut yakni musik merupakan bagian penting dan integral/utuh dari liturgi, bukan sekedar tempelan, selingan, tambahan atau dekorasi demi kemeriahan liturgi. Maka, syair dan lagu harus terpadu.

WhatsApp Image 2018-11-19 at 22.27.24
KOMSOS/Martinus Adi Prabowo

“Bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi,” ungkapnya.

Usai materi diberikan, seluruh peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk langsung mempraktekan paduan suara. Semoga paduan suara ini nanti kedepannya bisa berkembang dan terus ikut serta menyumbangkan suaranya bagi umat. (ASTRI/KOMSOS)