Batu Sandungan

SALAH satu tugas menarik saat bertugas di Paroki Bomomani, Papua adalah membersihkan batu-batu yang menyumbat saluran pipa air PLTA. Suatu hari kami berniat untuk memindahkan batu besar yang berada di tengah sungai kecil. Oleh karena dilakukan secara manual, maka apa daya proses ini membutuhkan waktu berhari-hari. Pertama kami harus membendung sungai itu, kemudian menggali sekeliling batu besar, dan akhirnya mendorong batu itu ke pinggir. Mengapa kami berniat untuk memindahkannya? Karena batu itu menghalangi aliran air sungai sehingga turbin PLTA tidak berputar kencang.

Hari ini Petrus yang minggu lalu disebut sebagai batu karang disebut oleh Yesus sebagai batu sandungan. Petrus memikirkan bukan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus memikirkan bahwa Mesias tidak dapat dikalahkan, tidak menanggung banyak penderitaan, tidak akan mati. Petrus masih memikirkan hal tersebut walaupun Yesus sudah menyatakan kepada murid- murid-Nya bahwa Ia harus menderita. Mesias harus kehilangan nyawa untuk keselamatan manusia.

Disadari atau tidak, terkadang kita menjadi batu sandungan, batu sumbatan bagi diri kita sendiri. Kita senantiasa memikirkan diri sendiri, enggan memikul salib, dan kadang kala tidak mau mengikuti kehendak Allah. Menjadi murid Yesus berarti menyerahkan diri kepada kehendak-Nya, bukan lagi mengandalkan kekuatan manusia melainkan percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Kita tentu ingin merasakan kasih Allah setiap saat, tetapi bercerminlah, jangan-jangan kita yang menolak kasih Allah itu.

Rm. Andreas Subekti

Petrus Batu Karang

KITA tentu pernah berkunjung ke pantai dan melihat batu karang. Batu karang menjadi tempat ikan-ikan berlindung dari hempasan ombak, tumbuhan laut menempel dan hidup, atau untuk kita berdiri sambil menikmati deburan arus air. Batu karang juga berfungsi untuk melindungi
pantai dari gerusan ombak yang senantiasa mengikisnya.

Yesus menyebut Petrus sebagai batu karang, “Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Pada zaman Yesus, alam maut digambarkan sebagai lubang yang menganga lebar. Semua orang yang meninggal akan masuk ke dalam lubang itu dan tidak ada jalan untuk kembali. Satusatunya cara untuk mencegah agar orang tidak masuk ke dalam lubang maut itu adalah menyumbat lubang dengan batu besar. Itulah gambaran bagaimana Petrus sebagai batu karang dan alam maut tidak akan menguasai.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Petrus bertugas untuk melindungi umat Allah dari segala macam marabahaya yang selalu datang. “Kepadamu akan
Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:18).

Penyerahan kunci Kerajaan Surga bukan menjadikan Petrus berkuasa untuk menentukan siapa yang masuk ke dalam surga, melainkan memiliki tugas untuk menahan kekuatan-kekuatan maut yang kerap kali mengikis iman kita. Petrus mengunci surga dari pengaruh-pengaruh jahat.

Kita bersyukur karena Rasul Petrus menerima tugas untuk menangkal kekuatan-kekuatan jahat yang menggoda kita. Tugas itu diterimanya dengan setia dari Yesus yang mengutus. Kita pun diutus Yesus untuk
menjalankan fungsi dan peran kita masing-masing dengan setia. Syukur-syukur bisa menangkal segala sesuatu yang jahat. Amin

Rm. Andreas Subekti