Allah Berbelas Kasih dan Adil

BAPA Uskup pernah memberikan pesan demikian : “Kita punya tugas perutusan untuk menghadirkan dan mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini”. Tugas perutusan tersebut adalah : (1) advokasi dan pemberdayaan, (2) pelayanan kasih, (3) restrukturisasi paroki, (4) katekese kontekstual, (5) litugi yang memerdekakan. Kita sebagai umat Allah di paroki sudah berusaha melaksanakan tugas perutusan tersebut. Tentunya tugas perutusan tersebut masih perlu kita tingkatkan sehingga Kerajaan Allah sungguh terwujud di dunia ini.

Sabda Tuhan pada Hari Minggu Biasa XVI ini mengingatkan kepada kita tentang Kerajaan Surga (lih. Mat 13:24-43). Kerajaan Surga adalah pemerintahan Allah di dunia
yang diumumkan Kristus. Pemerintahan Allah berkembang terus dari waktu ke waktu, tapi baru akan mencapai kepenuhannya saat akhir jaman. Kristus akan datang dalam
kemuliaan dan kekuasaan saat akhir jaman untuk pengadilan terakhir.

Pemerintahan Allah sudah hadir ke dunia ini melalui pelayanan Kristus dan Gereja-Nya (umat Allah). Namun di dunia ini masih ada kejahatan dan dosa. Ada orang yang hidup
sesuai dengan kehendak Allah, tapi ada pula yang tidak peduli kepada kehendak Allah dan menyesatkan sesama. Orang baik dan orang jahat hidup berdampingan di dunia ini.
Harapannya adalah ada pertobatan dari orang-orang jahat dan berdosa. Allah memberikan kesempatan kepada orang berdosa untuk bertobat (lih. Keb 12:19 – bacaan 1).

Namun bila orang tetap berbuat jahat, Allah akan menghukum dan memisahkan yang jahat bila saatnya tiba, yaitu saat pengadilan terakhir. Kita menyerahkan kepada Tuhan untuk menjalankan keadilan dan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya. Allah tidak begitu saja menjatuhkan hukuman atas manusia (lih. Keb 12:15). Allah mengadili dengan belas kasihan (Keb 12:18). Kita serahkan pengadilan kepada Allah yang pasti adil dan berbelas kasih. Kita hanya perlu terus berupaya agar tetap menjadi benih yang baik yang ditaburkan Anak Manusia. Kita percaya bahwa Allah telah memilih kita lewat pembaptisan untuk menjadi anak-anakNya.

HARI MINGGU BIASA XVI – RD. Antonius Pramono

Sabda Tuhan Berakar dalam Diri

katakese01_19_09_29_01

INJIL minggu ini berisi tentang perumpamaan. Perumpamaan itu berkaitan dengan firman Tuhan. Ada benih yang ditaburkan di pinggir jalan, tanah berbatu, dan di tengah semak duri.

Cara petani Palestina waktu itu menaburkan benih dengan menyebarkan benih pakai tangan ke atas ladang. Berbeda dengan cara yang mungkin kita kenal. Yang saya tahu, tanah itu diolah dulu, dicangkul, disiapkan, baru disebar benih. Cara petani Palestina waktu itu yaitu dengan menabur benih, baru membajak ladangnya. Maka ada benih yang jatuh di pinggir jalan, tanah berbatu, dan di tengah semak duri. Yang terjadi kemudian menurut sabda Tuhan adalah : benih yang jatuh di pinggir jalan tidak sempat diolah dan dimakan burung. Benih yang jatuh di tanah berbatu akan sulit tumbuh di tanah berbatu (keras, kersang). Meski diberi air, akan cepat kering lagi. Benih di semak duri akan dihimpit semak, sehingga tidak tumbuh. Semak dapat tumbuh di tanah kersang dan berbatu. Meski tanah itu dibersihkan, namun tidak lama semak akan tumbuh lagi. Lalu benih yang ada di tanah baik akan tumbuh di tanah baik tersebut.

Melalui sabda Tuhan ini ada pesan yang dapat kita maknai dalam hidup kita. Banyak orang yang menerima berita Injil, tapi sedikit yang beriman dengan benar. Perumpamaan tentang benih yang jatuh di aneka macam tanah, guna menjelaskan kenyataan yang ada tentang cara orang mendengar Injil. Orang yang mendengar Injil tanpa memberi tempat di hati atau membuatnya berakar dalam hati karena tidak tahan hambatan, godaan harta, kekayaan, kekuatiran, akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Tapi orang yang menerima firman dengan segenap hati akan memperoleh hasil yang berlipat ganda.

Kita berusaha menjadi “tanah yg baik”, yaitu yang mendengar Sabda dan memahami. Kita berusaha agar sabda Tuhan mengakar dalam hati dan pikiran kita. Bagaimana caranya? Caranya dengan bertekun membaca sabda Tuhan dalam Kitab Suci, merenungkan Sabda itu, dan berusaha melaksanakan dalam hidup sehari-hari. Bila kita terbiasa membaca, mendengarkan, dan merenungkan sabda Tuhan, semoga Sabda itu mengakar dalam diri kita, sehingga kita mampu mewujudkan sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari.

RD. Antonius Pramono