Menjadi Manusia Baru

IBU, bapak, saudari-saudara dan anak-anak yang terkasih, mari kita BERSUKACITA! Perayaan Paskah tahun ini tentu memberikan pengalaman yang sungguh mengesankan.

Walaupun demikian, jangan sampai kita tidak merasakan sukacita Paskah. Pengalaman ini menjelaskan, bahwa sukacita bukan hanya karena perayaan  yang meriah, bukan hanya ketika kita berbondong-bondong memenuhi gedung gereja, melainkan karena iman Kebangkitan Yesus Kristus yang kita rayakan bersama ini.

Dalam Perayaan Paskah, kita mau menghayati inti/puncak misteri iman mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Lalu pertanyaannya, mengapa perayaan Paskah menjadi perayaan puncak iman kita? Santo Paulus berkata, “sia-sialah iman kita kalau Tuhan Yesus tidak bangkit dari kematian-Nya.” Paskah menjadi puncak iman kita karena dengan kebangkitan Yesus, Allah mewahyukan kasih-Nya yang tak terhingga, yang luar biasa, untuk menebus dan
menyelamatkan kita dari dosa.

Yesus yang wafat di salib menjadi tanda bahwa Allah bersolider dengan manusia, ikut merasakan apa yang dialami oleh manusia bahkan sampai pada kematian (tentu termasuk dalam situasi pandemi ini Allah ikut merasakan). Yesus yang bangkit dari kematian menjaditanda bahwa Allah memberikan hidup baru kepada kita dan menjadi ciptaan baru.

Oleh karena itu, wafat Kristus menjadi peristiwa penyerahan hidup Yesus kepada Bapa dan kebangkitan menjadi penerimaan Bapa atas penyerahan hidup Yesus. Maka kelak kematian kita pun juga diimani sebagai jalan penyerahan diri kepada Allah dan dalam Kristus kita diterima pula oleh Bapa serta hidup bersama-Nya (mengalami kebangkitan).

Pengalaman iman inilah yang membuat kita senantiasa bersukacita dalam iman. Kita menjadi orang-orang beruntung yang diberikan hidup baru, menjadi ciptaan baru. maka walaupunkali ini kita merayakan Paskah dari rumah masing-masing, mari tetap BERSUKACITA. Sukacita bagi mereka yang biasanya sibuk di gereja, karena kali ini bisa merayakan bersama keluarga.

Sukacita bagi mereka yang jarang ke gereja karena sekarang merasakan kerinduan untuk merayakan Ekaristi. Akhirnya, kami mengucapkan selamat Paskah 2020 –sembari tetap berdoa agar situasi pandemi ini segera berlalu. Tuhan memberkati.

RD. Andreas Subekti

Setia juga Ikut Sengsara-Nya

IBU, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, semoga kita semua tetap BERSUKACITA!

Hari ini kita semua merayakan Minggu Palma. Perayaan ini menjadi pembuka dari seluruh rangkaian Pekan Suci. Dalam perayaan Minggu Palma kita merenungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan- Nya. Hal itu ditunjukan dengan prosesi perarakan Yesus saat memasuki kota Yerusalem sekaligus pembacaan mengenai kisah sengsara Tuhan.

Perayaan kemenangan Kristus ditunjukan dengan seluruh prosesi perarakan memasuki gedung gereja dengan nyanyian meriah “HOSANA bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang maha tinggi!” Sambil bersorak-sorai orang banyak menghamparkan pakaiannya di jalan dan ada pula yang memotong ranting- ranting dari pohon. Kita menggunakan daun palma untuk berarak bersama Yesus. Daun Palma adalah simbol dari kemenangan, kejayaan, kedamaian dan hidup abadi dalam budaya Timur Tengah.

Setelah menyambut Yesus sebagai Raja, kita juga diingatkan untuk memulai Minggu Sengsara Tuhan Yesus. Kisah sengsara dibacakan sebagai ajakan bagi kita semua untuk memahami penderitaan Kristus. Yesus masuk ke Kota Yerusalem untuk memulai kisah sengsara-Nya. Yesus dengan rela menyerahkan diri agar rencana keselamatan Allah
tergenapi. Dari sini sungguh tampak sikap Yesus terhadap kehendak Bapa.

Dua situasi berbeda ini, kegembiraan dan sengsara, mau mengajak kita semua untuk setia mengikuti Yesus bukan hanya ketika Kristus tampil sebagai Raja, melainkan juga  mengikuti Yesus dalam jalan sengsara-Nya. Kita mohon kepada Yesus Kristus agar bersedia mengikuti jejak-Nya sambil memanggul salib kita masing-masing dengan penuh sukacita.

(RD. A. Subekti)