Vatikan dan Dunia Arab Sepakat: Berhenti Bawa Tuhan dan Agama

603338414

SEBUAH kunjungan dan pertemuan bersejarah antara Petinggi Gereja Katolik Roma dan dunia Arab telah terjadi. Paus Fransiskus dan Paus-paus sebelumnya pernah melakukan kunjungan ke beberapa negara dengan kekentalan Islam Arab tinggi, misalnya Mesir, Marokko, Tunisia, Palestina, dan Libanon, tetapi belum pernah terjadi dengan jazirah Arab yang dikenal sebagai tempat lahir agama Islam.

Pada Minggu malam, 3 Februari 2019, Paus Fransiskus yang sudah cukup lama mengiyakan undangan Presiden Uni Emirat Arab (UAE), Syeikh Khalifah bin Zayid al-Nahyan, dan komunitas Katolik di negeri ini, terbang menuju Abu Dhabi, ibu kota (UAE). Tiba di Bandara Kepresidenan UAE pada malam hari pukul 22.00 waktu Abu Dhabi dan diterima secara sangat hangat dan protokoler.

Dari situ, kegiatan demi kegiatan berlangsung dengan sangat rapih, indah, dan mengesankan hingga beliau tiba kembali di Vatikan pada Selasa, 5 Februari pukul 17.00 waktu Roma dalam keadaan selamat, dengan hati puas, dan bahagia.

Tak disangkal. Lawatan ini diklaim bersejarah dan oleh berbagai alasan, mendapat antusiasme sangat besar di seantero jagat. Di berbagai TV dan surat kabar serta jalur-jalur media sosial, berseliweran berita-berita kehadiran Paus dan berbagai kegiatan sejak tiba di bandara, dijemput dengan musik khas Arab, hormat salut dari para serdadu, penjemputan di istana kepresidenan disertai dengan semburan asap berwarna kuning dan putih yang melambangkan bendera Vatikan, hingga pertemuan dialog lintas agama di Masjid “Founder’s Memorial”, kunjungan pribadi ke Katedral hingga Misa Raya di Zayed Sports City yang menghadirkan lebih dari 130.000 umat Katolik dan 4.000 umat Islam, hingga acara pamitan untuk kembali ke Vatikan.

Oleh karena kehistorisan lawatan Sri Paus ini, bukan saja untuk beliau dan Gereja Katolik di belakang beliau, tetapi juga untuk pihak UAE, Semenanjung Arab, dunia Arab dan umat Islam sedunia, setiap momen dan peristiwa pertemuan yang sudah diagendakan di atas program menjadi momen-momen sangat istimewa dan berarti.

Setiap tatapan mata, setiap rangkulan, setiap gandengan tangan, setiap kata, setiap isyarat, setiap simbol menjadi tanda istimewa syarat makna, syarat pesan.

Ada banyak klimaks selama kunjungan ini berlangsung. Tergantung dari konteks mana. Tak dipungkiri bahwa misi perdamaian dunia adalah salah satu tujuan utama Paus Fransiskus dalam lawatannya ke Semenanjung Arab kali ini.

Konsernnya tentang perdamaian dunia, tentang dunia yang beradab, dunia yang lebih berperikemanusiaan, dunia yang bebas dari rasa sakit, dan tetes-tetes air mata sudah beliau perjuangkan dari awal pontifikatnya tahun 2013 lalu.

Di berbagai kesempatan beliau menyerukan keadilan sosial, pemerataan, pembangunan, “jembatan” dan bukan “tembok”, kerukunan, perdamaian, dan berbagai opsi kemanusiaan lainnya.

Paus Fransiskus tidak hanya berwacana. Dia juga melakukan aksi-aksi nyata untuk itu; mulai dari mencium kaki para pengungsi dan nara pidana dari berbagai latar belakang agama saat upacara Misa Kamis Putih setiap tahun, hingga membawa pengungsi Muslim masuk Vatikan dan makan bersama di satu meja makan dalam rumah kediamannya yang sangat privat.

Berapa miliar umat Katolik ingin makan semeja makan dengan Paus, dan mereka tidak bisa. Jangankan makan bersama. Bersalaman saja sulit bukan main.

Ajaran Kasih Yesus Kristus, Paus Fransiskus simpulkan secara sangat to the point melalui cara hidupnya yang sederhana, lugas, dan konkret.

Inilah jalan hidup yang tepat untuk seorang pemimpin yang datang untuk melayani dan membawa kebahagiaan untuk semua orang, dan bukan sebaliknya untuk dilayani dan untuk bermegah-megah di atas kekayaan yang sering merupakan hasil curian dan rampasan dari keringat rakyat jelata.

Dengan roh dan semangat kesahajaan, seorang pemimpin lebih bisa bersolider dengan manusia-manusia yang ia pimpin. Dengan semangat itu pula, dia lebih mudah mengosongkan diri seraya memberi ruang terlebih dahulu kepada kepentingan umum daripada kepentingan ego.

Itulah sebabnya, mengapa Fransiskus memutuskan untuk memilih perikop Injil Kotbah di Bukit dari Injil Matius, khususnya Sabda Bahagia (Mat. 5:1-12) untuk perayaan Misa akbar di stadion Zayed Sports City yang diklaim sebagai misa raya pertama kali dalam sejarah di semenanjung Arab, dengan khalayak sebanyak itu.

Dalam kesempatan emas itu, beliau tidak hanya ingin menyirami jiwa-jiwa umat di wilayah itu yang oleh karena kondisi tertentu, tidak bisa menghidupi imannya dengan cara semestinya, tetapi juga secara global ingin mengajak semua orang dari berbagai latar belakang iman dan agama untuk menghidupi semangat kesederhanaan dan kesahajaan untuk bisa memberikan lebih banyak ruang kepada kuasa Tuhan.

Tekanan khusus beliau berikan kepada urgensi membawa dan menyebarkan perdamaian (Mat.5:7). Orang yang membawa dan menyebarkan perdamaian, dia bukan saja akan menjadi bahagia, tetapi dia saat ini pula sudah menjadi bahagia.

Orang yang berjiwa damai dan bahagia dengan dirinya, akan bisa membuat orang lain damai dan bahagia. Inilah urgensinya. This is the point! Perdamaian dan kebahagiaan bersama kita butuh sekarang dan di sini. Bukan besok, bukan lusa, bukan tahun berikutnya.

Persaudaraan Universal

Selaras dengan misi perdamaian ini, pada hari kedua, Paus Fransiskus yang sudah cukup lama bersahabat kental dengan Imam Besar al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, dalam pertemuan lintas agama di Masjid “Founder’s Memorial” di Abu Dhabi dan di hadapan petinggi UAE serta wakil-wakil dunia Islam dan Katolik, menandatangani sebuah Deklarasi dan Dokumen bersama tentang Persaudaraan Manusia Universal demi kerukunan dan perdamaian manusia sejagad.

Urgensitas penandatanganan dokumen bersejarah ini, bukan saja karena fakta kita bersama bahwa relasi antara umat Islam dan umat Kristiani sejak abad ke-7 Masehi sudah dibayang-bayangi oleh kesalahpahaman dan konflik yang sayangnya masih berlangsung di banyak tempat hingga saat ini, tetapi juga karena adanya kesadaran, malah keyakinan, bahwa kalau umat Islam dan umat Kristiani bisa saling menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari, dan dengan itu bisa hidup bersama secara rukun dan damai, maka perdamaian dunia pasti akan dialami.

Mengapa tidak? Menurut statistik terakhir, umat Kristiani dan Islam seluruhnya, termasuk berbagai macam denominasi yang berafiliasi di bawah nama Kristen dan Islam, bersama-sama membentuk lebih dari setengah keseluruhan populasi dunia (7 miliar).

Umat Kristiani seluruhnya berjumlah 2,2 miliar (32.5 % dari keseluruhan populasi dunia). Umat Islam seluruhnya berjumlah 1,5 miliar (21,5 % dari keseluruhan populasi dunia). Artinya, kedua-duanya berjumlah total sebanyak 3,7 miliar orang dari 7 miliar penduduk dunia saat ini.

Dokumen Persaudaraan Manusia dari berbagai latar belakang, termasuk agama, merupakan sebuah panggilan mendesak saat ini.

Menurut Paus Fransiskus dan Imam al-Tayyib yang berbicara atas nama al-Azhar, sebuah institusi prestigius dan ternama di dunia Islam, jalan menuju persaudaraan manusia universal, seperti yang dirumuskan di dalam Dokumen itu, bukan saja dilakukan melalui langkah-langkah penting seperti berhenti menggunakan nama Tuhan untuk menghalalkan kekerasan, terorisme, dan pembunuhan, tetapi juga berhenti menginstrumentalisasi agama untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Berhenti pula menekan orang lain dengan menggunakan kuasa yang bekedok agama. Lebih lugas, lebih jelas, dan lebih terang dari ungkapan-ungkapan seperti ini tidak ada lagi.

Anak-anak kecil hingga kakek dan nenek, orang bersekolah dan orang buta huruf bisa memahaminya. Tidak butuh interpretasi, tidak butuh penjelasan. Berhenti artinya berhenti.

Kalau dua tokoh besar dunia sudah sepakat seperti itu dan dimeterai pula hitam di atas putih, dan mereka berbicara atas nama begitu banyak orang, disaksikan petinggi-petinggi kedua agama, dan ini dimaksudkan semata-mata untuk kebaikan bersama, tinggal saja kita ikuti.

Mari kita mulai bersama. Mari kita sejukan dunia ini bersama-sama.

Penulis: Romo Markus Solo SVD, Direktur Desk Islam di Asia dan Pasifik, dan Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama.

Sumber: http://mediaindonesia.com/read/detail/215494-vatikan-dan-dunia-arab-sepakat-berhenti-bawa-tuhan-dan-agama

Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019

 

KETIKA pemimpin berperilaku secara moral bermasalah, masyarakat dapat kehilangan orientasi nilai, tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.

Demikian penggalan pesan Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Mgr. Ignatius Suharyo dalam Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019 bertajuk “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat” yang dirilis kaj.or.id.

“Sekitar dua bulan yang lalu, pada halaman pertama salah satu harian nasional, terpampang judul besar Kesadaran Moral Dirusak. Dalam ulasan itu disampaikan data sekian banyak tindakan tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap sekian banyak pejabat yang melakukan korupsi,” kata Mgr. Ignatius Suharyo melalui Surat Gembala yang dikirimkan untuk semua paroki dan stasi Gereja Katolik di KAJ.

Padahal, lanjut Uskup, tanggung jawab utama mereka adalah memastikan terwujudnya kesejahteraan warga masyarakat yang ada di wilayah pelayanan mereka.

Pejabat-pejabat dan para pelaku korupsi itu dipastikan tidak menjalankan amanah sila ke-4 Pancasila, ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.’

“Mereka bukan pribadi-pribadi yang berhikmat dan bijaksana yang dapat diharapkan mampu menjadikan bangsa semakin bermartabat,” tegas Uskup Mgr. Ignatius Suharyo.

Dikatakan bahwa yang paling parah dirusak oleh tindakan koruptif seperti itu adalah kesadaran moral.

“Kalau demikian kejahatan dapat dianggap sebagai hal yang rutin dan sehari-hari. Akibatnya mutu keadaban publik luntur atau bahkan rusak. Kita bertanya, pesan apa yang mau disampaikan Tuhan kepada kita lewat peristiwa-peristiwa seperti itu?” imbuhnya.

“Salah satu jawaban yang pasti adalah bahwa kita dipanggil untuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat-bijaksana, dalam segala kekayaan maknanya,” demikian Uskup Mgr. Ignatius Suharyo. 

Sumber: Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019, Pejabat Korupsi Bukan Pribadi Berhikmat-Bijaksana

This slideshow requires JavaScript.

Paroki Pasar Minggu dalam seremoni pembukaan Tahun Berhikmat mengundang berbagai pihak untuk turut serta. Hadir pada kesempatan itu, Kapolsek Pasar Minggu Kompol Prayitno, dan Pengurus RT di lingkungan RW 04 dan RW 05, Gerakan Pemuda Anshor, serta keluarga besar anggota Dewan Paroki Pleno Paroki Pasar Minggu. (KOMSOS)

Ribuan Orang Makan Bersama, Tanpa Merasa Berbeda

48429063_2271647546381029_6674398612711014400_o
Sumber: Sant’Egidio Indonesia

GEREJA Katolik se-Jakarta menggelar makan siang bersama dalam menyambut Natal 2018. Makan siang dilakukan bersama kaum miskin serta orang-orang yang tersingkir, tersisih, dan terpinggirkan oleh dunia. Makan siang bersama digelar secara serentak di sejumlah paroki dan lokasi yang berada di bawah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Selasa (25/12), bertepatan dengan peringatan kelahiran Tuhan Yesus.

Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo mengemukakan gerakan makan siang Natal mengajak umat Katolik, khususnya di KAJ, untuk mengamalkan Pancasila, mendalami secara khusus sila ketiga “Persatuan I‎ndonesia” dengan semboyan “Kita Bineka-Kita Indonesia”. Dalam semboyan ini terkandung berbagai macam gagasan yang bisa diterjemahkan menjadi berbagai gerakan yang membarui kehidupan.

“Kalau gerakan-gerakan ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, akan terbentuklah habitus baru, yaitu cara merasa, cara berpikir, cara bertindak dan berperilaku baru, baik dalam tataran pribadi maupun bersama, dalam keluarga, komunitas dan masyarakat yang lebih luas. Habitus baru inilah yang akan menjadi daya transformatif dalam kehidupan. Kalau manusia semakin berbakti kepada Tuhan, berperilaku adil dan beradab, serta semakin bersaudara satu dengan yang lain, Kerajaan Allah menjadi semakin nyata dan kemuliaan Tuhan akan semakin tampak,” kata Ignatius.

48428388_2271656879713429_807404214710960128_n.jpg
sumber: Sant’Egidio Indonesia

Menurutnya, makan siang Natal menjadi salah satu gerakan dalam mengembangkan semangat kebinekaan, mengangkat derajat dan martabat, serta membarui kehidupan. Gerakan ini diadopsi oleh KAJ dari Komunitas Sant’ Egidio Roma sejak 2010.Makan siang Natal menjadi gerakan persatuan dan persaudaraan dengan semua warga bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama dan perbedaan-perbedaan yang lainnya.

“Gerakan ini mau menghadirkan semangat cinta, kasih dan persahabatan, khususnya dengan kaum miskin papa, mereka yang terasing, menderita dan terpinggirkan dunia,” kata Ignatius.

‎Koordinator acara tersebut, Teguh Budiono ‎menambahkan tema MSN tahun ini adalah “Joy in Diversity: Kita Bineka Kita Indonesia”. Menurutnya, makan siang Natal adalah kebahagiaan bagi semua tanpa terkecuali, pria, wanita, tua, muda, kaya dan miskin. Kebahagiaan yang bukan hanya akan dirasakan oleh mereka yang dilayani, tetapi juga bagi mereka yang melayani.

48390957_2271656859713431_4485475909058428928_n
sumber: Sant’Egidio Indonesia

Makan siang ini dilakukan bersama 5000-an orang yang tersebar di 18 titik di wilayah Jakarta, Tengerang, dan Bekasi. MSN ini dilaksankan secara serentak Selasa, 25 Desember 2018, dari Pukul 10.00 WIB hingga Pukul 16.30 WIB.

“Seperti halnya dalam peristiwa kelahiran yang membawa kebahagian dan sukacita, kelahiran-Nya menyatukan kita, yang berbeda-beda, dalam satu kebahagiaan besar. Meja perjamuan makan siang natal menjadi gambaran persatuan, persaudaraan, dan keharmonisan bangsa, karena berkumpul setiap orang dengan latar belakang yang berbeda dalam suasana penuh keakraban dan sukacita,” tutur Teguh.

Sumber: Gereja Katolik Jakarta Gelar Makan Siang Bersama Kaum Miskin