Berkah Kanjeng Putri bagi Seorang Maestro Keramik

SEKEPAL tanah liat nampaknya tidak punya nilai. Namun, lewat sentuhan seorang seniman keramik bernama Fransiskus Maria Widayanto, tanah yang biasa digunakan untuk membuat keramik itu bisa berubah menjadi karya seni yang mengagumkan.Salah satunya adalah patung Bunda Maria yang diberi judul ‘Berkah Kanjeng Putri’ yang terpajang di tengah podium lantai dua, GRHA Keluarga Kudus Pasar Minggu dalam acara Penggalangan Dana Pemeliharaan Gereja Keluarga Kudus Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Patung yang dibuat dari tanah batuan asal Sukabumi, Jawa Barat itu merupakan sosok Bunda Maria pada saat mendapat kabar Ilahi bahwa akan mengandung bayi Yesus Kristus (Annunciation). Dibuat oleh pria yang akrab disapa Yanto ini dengan warna cokelat bernuansa etnik. Yanto juga tak lupa melekatkan sejumlah aksesori pada patungnya untuk meningkatkan kesan pada kisah yang ia ceritakan. Ada burung merpati yang mengepakan kedua sayapnya di tangan kanan patung Bunda Maria, yang melambangkan kehadiran Roh Kudus yang membuahkan cinta kasih. Selain itu ada pula bunga teratai serta kupu-kupu di sekitar kain Bunda Maria yang menunjukkan betapa cantik dan harumnya Bunda Yesus itu.

Tak hanya itu, di sebelah kanan patung ‘Berkah Kanjeng Putri’ terdapat pula patung Bunda Maria lainnya dengan model yang berbeda. Patung itu diberi judul ‘Kanjeng Ratu’. Sosok Bunda Maria dalam bentuk patung itu penuh keanggunan nan lembut dengan dibalut kebaya serta jarit perpaduan warna cokelat dan biru panjang yang membungkus pinggang hingga mata kaki. Proses pembuatan kedua patung keramik itu perlu kecermatan tinggi, karena pada temperatur yang tinggi patung bisa terdeformasi, mengerut secara tidak proporsional, ambruk ataupun bengkok.

Agar tetap sesuai dengan model, patung- patung tersebut disangga dengan tonggak- tonggak terbuat dari bahan yang sama dengan pemasangan yang membutuhkan perhitungan matematis yang rumit. Niat Yanto dalam membuat patung Bunda Maria berawal dari kekagumannya pada sosok Bunda Maria, yang dianggapnya sebagai pelidung baginya, sosok yang menjadi teladan dalam hidup serta memiliki semangat melayani dengan kerendahan hati. Nama Maria juga dilekatkan pada pria kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953 itu.

“Orang menganggap aneh nama itu ada pada saya, meski Maria kerap kali diberikan pada anak perempuan namun bagi saya Bunda Maria adalah ibu pelindung buat saya. Dan kini, selalu menjadi berkat buat saya,” ujar Yanto saat berbincang dengan Majalah Inspirasi, Minggu (29/3) lalu.

Patung Bunda Maria yang pertama kali dibuatnya adalah patung Bunda Maria berkerudung sambil menggendong bayi mungil. Gereja Katolik Salvator, Petamburan, Jakarta Pusat sempat memesan patung Bunda Maria untuk menggantikan Patung Bunda Maria yang sudah ada sebelumnya. Sang Pastor yang memesan berkata bahwa patung itu justru sesuai dengan ‘Maria Lourdes’ yang tangannya memegang rosario, sementara kepalanya menengok kiri atau ke kanan. Setelah mempelajari patung ‘Maria Lourdes’, akhirnya Yanto memasukan sedikit sentuhan wanita Indonesia tanpa mengubah seluruh ornamen patung ‘Maria Lourdes’. Tapi dengan pertimbagan, patung Bunda Maria berwajah Indonesia mungkin membuat orang tidak datang ke gereja untuk misa, maka pihak gereja membatalkan untuk memasang patung itu. Namun, Yanto tidak berhenti untuk membuat patung Bunda Maria versi Indonesia. Ia bahkan mendapat kesempatan membuat patung Bunda Maria di sebuah Gereja Katolik di kota Nazaret. Bentuk patung itu tampak unik karena mencampurkan unsur mozaik dan relief ke patung Bunda Maria tersebut.

“Sekitar 8 tahun yang lalu, saya diberi kabar oleh salah satu rombongan peziarah yang kesana bahwa di Gereja Kabar Suka Cita, Nazareth, Israel terdapat satu ruang untuk ditaruh lukisan Maria. Ada berbagai sumbangan lukisan Maria dari berbagai pejuru Negara di dunia. Akhirnya, saya buat sketsa dan panitia berpesan agar Bunda Marianya tidak mencerminkan suku tertentu, sebab Indonesia kan berbagai macam suku, jadi harus terkesan Indonesianya namun tetap bergaya santai. Akhirnya saya buat, patung Bunda Maria dengan mengenakan kebaya biru panjang serta jarik motif batik dengan warna senada dengan kerudung putih gaya Ibu Fatmawati (Istri Presiden RI pertama Soekarno),” terangnya.

Selain dari Indonesia, ada pula mozaik lain dari Jepang yang kabarnya menggunakan mutiara asli. Bunda Maria tersebut, sambung Yanto, digambarkan menggunakan kimono dan sedang menggendong bayi Yesus dengan model busana yang sama. Ada juga yang dari Ukraina, China, Singapore, Italia dan beberapa negara lain. Kebanyakan lukisan tersebut menggambarkan Bunda Perawan Maria dengan mengenakan pakaian adat masing- masing negara.

Di setiap karyanya, Yanto sering kali menyisipkan simbol-simbol tradisi lokal yang menjadi ciri khas dari patung keramiknya. Pria lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB pada tahun 1981 ini mengaku sejak kecil kerap menikmati patung-patung Yunani yang selain diselubungi oleh mitologinya, juga disertai dengan gerak, aura yang khas. Itulah yang diwujudkan dalam karya patungnya. Namun, inilah khas Yanto, sebagaimana yang dia akui ketika dilontarkan kepadanya. Gaya patung Yanto terkesan indah, harmoni serta anggun.

“Saya juga senang dengan tanaman serta binatang maka itu saya sering gabungkan kedua unsur itu dalam karya saya. Begitu juga dengan mitologi, baik itu dari barat maupun lokal buat saya pesannya akan menjadi kuat sekali. Sebagai pembuat keramik yang lahir di Indonesia, wajar bila saya membuat patung menurut budaya Indonesia seperti Loro Blonyo (1990), Golekan (1997), Dewi Sri (2003),” paparnya.

Sebagai seorang Katolik, Yanto menjelaskan, semangat kekatolikan itu bukan hanya di kulit atau di permukaan saja. Ia sangat menghargai alam yang telah Tuhan berikan padanya, termasuk segala hal yang ada di dalamnya, seperti tanaman dan binatang.

“Anda harus mencinta semesta, bukan hanya Anda sendiri. Arti kekatolikan itu bukan orang yang sering datang ke Gereja tetapi bagaimana kita mensyukuri semesta ini dan bagaimana kita bisa berbuat baik juga pada semesta ini. Saya merasa bahagia menjadi orang Katolik karena dapat merasakan banyak kesempatan untuk berfikir, melihat dan merasakan banyak hal. Ini yang ingin saya katakan melalui karya saya,” pungkasnya. (ASTRI/KOMSOS)