Kisah Sengsara Yesus, Kisah Sengsaraku

2016022402535026869

HARI ini kita memasuki Pekan Suci. Pekan Suci mulai pada Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya.

Sejak dahulu kala, masuknya Yesus ke Yerusalem diperingati dengan prosesi meriah. Di negara kita akhir-akhir ini ramai dengan kampanye calon dan wakil presiden. Mereka dielu-elukan atau malah ‘mengelu-elukan’ dirinya sendiri agar dipilih dalam pemilu.

Dalam perayaan Minggu Palma, Yesus juga dielu-elukan oleh orang banyak. Yesus disambut bagai raja. Tetapi Yesus tidak mau menjadi raja. Penyambutan Yesus hanya berlangsung sesaat, karena Dia lalu masuk dalam sengsara.  Kisah sengsara Yesus dapat juga dialami orang pada jaman sekarang, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Misal: buruh ditindas majikan, istri ditindas suami atau bahkan suami direndahkan istri, perkawinan yang bermasalah, anak-anak ditekan orangtua. Ada pula orang yang menderita sakit bertahun-tahun, orang yang dihina, dilecehkan, dan berbagai kisah hidup lainnya. Ada begitu banyak “kisah sengsara” yang terjadi di dunia ini.

Saat kita mengalami kesulitan hidup, penyakit, penindasan, mungkin kita bertanya-tanya: “Tuhan di manakah Engkau? Mengapa Engkau meninggalkan aku?” Persis itu yang dikatakan Yesus ketika dipaku di kayu salib, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Lalu Yesus berkata: “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Yesus Kristus telah membuka hati kita, bahwa dalam penderitaan dan kesengsaraan, masih ada harapan. Ketika kita mengalami sengsara, ketika harapan seakan menghilang, ketika iman mulai pudar, ketika cinta mulai layu; kita ingat kepada Yesus, dan berkata: “Tuhan Yesus, kuserahkan diri hamba ke dalam tangan-Mu”. Kita dapat memberi arti bagi penderitaan kita, jika kita menerima penderitaan itu bersama dengan Yesus. Hal ini mudah untuk orang-orang yang dapat menerima penderitaannya; misalnya sakit yang ringan-ringan saja, yang dapat diterima dengan sabar. Tapi akan menjadi sulit jika penderitaan kita begitu berat.

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan kita sungguh-sungguh tidak berarti, jika kita tidak mampu menerimanya dengan sadar dan bebas. Penderitaan itu punya arti apabila kita mampu menghadapinya seperti yang dilakukan oleh Yesus, jika kita menerimanya bersama dengan Yesus.

Kisah sengsara bukan sekedar cerita belaka. Kisah sengsara memberi pelajaran bagi kita. Orang yang berpasrah kepada Allah seperti Yesus, akan memperoleh kehidupan abadi seperti Yesus yang bangkit dari kematian. Kisah sengsara bukan untuk menimbulkan perasaan haru, tetapi untuk membuat kita makin menyadari bahwa Allah menyertai kita. Kisah sengsara ingin menunjukkan bahwa Allah selalu bersama kita. Allah tidak bakal meninggalkan kita sendirian, Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur. Inilah kabar baik bagi kita semua.

                                                                  RENUNGAN HARI MINGGU MINGGU PALMA
(RD. Antonius Pramono Wahyu Nugroho)