Kidung Maria

MASA pandemi merupakan masa yang membuat kita menahan segala sesuatu. Menahan dari kumpul-kumpul, menahan dari keluar-keluar rumah yang tidak perlu, menahan dari jalan-jalan atau bepergian jauh. Akan tetapi, masa pandemi ini tidak mampu menahan kita untuk merasakan kasih Tuhan yang tetap mengalir menemani hari-hari kita. Kasih yang berlimpah dari sang Maharahim untuk umat-Nya yang Dia cintai. Kasih itu juga yang menjadikan kita senantiasa memiliki harapan serta terus berjuang dan merasakan kegembiraan akan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Bunda Maria, dimana ketika Sang yang tengah mengandung Yesus tetap ingin mengunjungi saudarinya yang juga sedang mengandung yaitu Elisabet. Apabila kita telusuri perjalanan Maria dari rumah-Nya sampai ke rumah Elisabet itu memakan waktu yang lama dan tenaga yang banyak karena jarak rumah mereka yang cukup jauh. Padahal, pada zaman itu belum ada kendaraan yang memakai mesin seperti sekarang ini. Semua perjalanan dilakukan dengan jalan kaki. Saya tidak bisa membayangkan kondisi Maria yang tengah mengandung harus berjalan dengan jarak yang cukup jauh untuk sekedar menguatkan saudarinya yang juga sedang mengandung.

Pertemuan antara dua orang perempuan yang sedang mengandung itu memberikan lonjakan kegirangan pada janin mereka terlebih janin Elisabet yang kita ketahui adalah Yohanes Pembaptis. Namun, kegirangan tersebut bukan karena sekedar pertemuan melainkan kedatangan sang Mesias yang menghangatkan hati dan batin mereka masing-masing. Oleh karena itu, Maria mengumandangkan Kidung-Nya yang kini selalu dipakai dalam buku Ibadat Harian terlebih pada ibadat sore sebagai bagian rasa syukur akan penyertaan Tuhan dalam perjalanan.

Saya sendiri juga merasakan bahwa rahmat Tuhan selalu menyertai, terlebih dalam perjalanan kehidupan secara khusus panggilan imamat. Sebagai manusia, saya merasa tidak pantas karena kesalahan dan dosa manusiawi yang ada pada diri saya. Akan tetapi, saya selalu menyerahkan semua pada penyelenggaraan Tuhan atas hidup saya untuk menjadi milik-Nya. Saya belajar dari Bunda Maria yang mau bertekun meski dalam posisi yang amat sangat sulit tetap menjalankan tugas-Nya sebagai Bunda Tuhan sampai pada akhirnya mampu mengumandangkan kidung atas kemurahan hati Tuhan. Oleh karena itu, Kidung Maria yang kita terima pada hari ini menjadi bukti bahwa Tuhan itu hadir dan selalu menyertai kita dalam setiap tantangan hidup kita. Marilah kita sebagai umat-Nya senantiasa mampu untuk mengumandangkan kidung kita masing-masing sebagai tanda bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan Memberkati ūüėä

Fr. Nando Sitohang