PENGUMUMAN MISA OFFLINE

Berdasarkan SK KAJ No 295/3.5.1.2/2021 mengenai Zona Merah, menimbang dan memperhatikan situasi rawan serta meningkatnya kasus Covid-19 secara tajam di wilayah DKI Jakata, mewaspadai berkembangnya sebaran dan upaya menjaga kesehatan serta keselamatan seluruh umat, maka DPH Paroki Pasar Minggu melalui SK No 22/DPH/PGDP/PPM/VI/2021 memutuskan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Meniadakan misa offline lansia dan anak-anak terhitung mulai Sabtu, 19 Juni 2021.
  2. Mengadakan misa offline bagi umat berusia 18 sampai dengan 59 tahun sejumlah 1 (satu) kali misa untuk seluruh wilayah dengan jumlah maksimal 100 umat mulai Minggu, 27 Juni 2021.
  3. Meniadakan sementara Sakramen Baptisan bayi
  4. Mengimbau agar kegiatan kerohanian dan pastoral bersama seperti: pertemuan lingkungan, persiapan-persiapan penerimaan sakramen, pertemuan kategorial, kelompok doa, dan rapat-rapat dilaksanakan secara online.
  5. Pemberkatan perkawinan tetap dapat dilaksanakan dengan protokol Covid-19 ketat sesuai arahan pemerintah daerah dan Gereja.
  6. Marilah kita senantiasa mematuhi protokol kesehatan, memelihara kehidupan bersama, saling menguatkan dan memohon perlindungan Keluarga Kudus. Tuhan memberkati.

“BANGUNLAH!”

HARI MINGGU BIASA XIII

27 Juni 2021

Ibu, bapak, saudari-saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, semoga tetap semangat dan sukacita di saat-saat ini.


Dengan melonjaknya kasus covid-19 ini, maka Paroki kembali mengedepankan protokol kesehatan ketat dan meniadakan misa tatap muka. Pandemi merajalela, banyak umat juga harus mengalami situasi ini. Dunia sedang tidak
baik-baik saja, saatnya kita berserah kepada kehendak Tuhan Yesus.


Berserah bukan berarti menyerah, berserahlah seperti kepala rumah ibadah. Kepala rumah ibadah datang kepada
Yesus dan memohon kepada-Nya, “datanglah kiranya, dan letakanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia tetap selamat dan
tetap hidup” (Markus 5:23). Berserah berarti mengakui bahwa diri kita tidak mampu mengatasi masalah. Berserah menuntut sikap rendah hati dari kita – bahwa manusia butuh belas kasih Allah, butuh kekuatan dan kuasa dari Tuhan Yesus. Kepala rumah ibadah datang kepada Yesus dengan sikap rendah hati yang sangat luar biasa. Siapapun kita ternyata tetap membutuhkan bantuan orang lain untuk keluar dari segala kesulitaan yang dialami.


Yesus menyembuhkan dengan memegang tangan anak itu dan berkata “bangunlah!”. Sekarang saatnya kita juga berusaha mengulurkan tangan kepada sesama dan berkata bangunlah. Bangunlah dari rasa putusasamu, bangunlah dari sikap rendah diri, bangunlah dari keterpurukanmu, bangunlah dari kesedihanmu. Itu yang bisa kita katakana sebagai harapan bagi sesama, terutama mereka yang sakit karena pandemi Covid-19 ini.

RD. ANDREAS SUBEKTI