Hadirkan Spiritualitas Gereja Katolik di Tengah Masyarakat Majemuk

IMG-20180319-WA0000

IWAN Christiawan Budiwibowo, atau yang akrab disapa Iwan, adalah salah satu umat Paroki Pasar Minggu yang terlibat dalam kepanitiaan tahun persatuan 2018. Kepada KOMSOS, pria lulusan Fakultas Hukum Universitas 11 Maret, Solo, pada tahun 1990 ini bercerita pernah terlibat sebagai salah satu pendiri organisasi dalam paroki bernama “Lex Perfecta”, sebuah lembaga bantuan hukum non-profit yang melayani kebutuhan umat paroki yang mempunyai permasalahan hukum pada saat Paroki Pasar Minggu berada di bawah kepemimpinan Romo Hadiwijoyo.

Pada periode tahun 2017-2020, pria kelahiran tahun 1971 ini ditunjuk oleh Pastor Paroki Pasar Minggu untuk menjadi Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Gereja (SKP), sebuah seksi/pelayanan baru dalam paroki yang dilandasi semangat filosofis “sebuah rumah besar untuk membangun keutuhan ciptaan-Nya”.

SKP memiliki empat pilar karya yakni Sub Seksi Lingkungan Hidup, Sub Seksi Hukum dan HAM, Sub Seksi Keadilan dan Kesetaraan Gender, serta Sub Seksi Peduli Migrant dan Perantau. Meskipun SKP belum terlihat secara nyata, Iwan mengatakan bahwa Sub Seksi Lingkungan Hidup sudah mulai berperan dalam paroki seperti kegiatan bak sampah, hidroponik, dan lain-lain. Ketiga sub seksi yang lain baru mendapatkan pembekalan materi dari KAJ namun sudah menyusun beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini seperti pemberian konsultasi hukum gratis di tiap hari Jumat bagi yang membutuhkan.

Dalam rangka tahun persatuan 2018, atas permintaan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk membentuk Panitia Penggerak Paroki, Iwan ditunjuk oleh DPH/romo untuk menjadi ketua Panitia Penggerak Paroki Pasar Minggu. Semangat membangun tahun persatuan ini berawal dari keprihatinan bersama mengenai terkikisnya nilai-nilai toleransi antar sesama anak bangsa yang berbeda suku, agama, antar golongan.

“Maksud dan tujuan tahun persatuan yang dicanangkan oleh KAJ itu adalah untuk menghadirkan spiritualitas Gereja Katolik secara nyata di tengah masyarakat yang majemuk dengan konsep utama ‘Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka Kita Indonesia’,” jelas Iwan.

Gereja, sambung dia, dituntut untuk hadir dan mampu menjaga semangat keutuhan persatuan dalam bingkai NKRI. Iwan, beserta panitia tahun persatuan paroki telah menyusun berbagai rencana seperti misa inkulturasi, pembagian takjil ke mushola-mushola sekitar gereja, membantu sumbangan hewan qurban, silahturahmi ke berbagai tokoh masyarakat dan agama di sekitar lingkungan paroki, fun run tahun kemerdekaan bersama tokoh-tokoh ormas/pemuda lintas agama, seminar kebangsaan dan sebagainya. Selain itu, panitia juga akan mengikuti pedoman yang telah diberikan oleh KAJ yaitu gerakan transformatif.

Iwan mengakui bahwa ia senang terlibat dalam panitia tahun persatuan paroki sebab ia beserta panitia mengenal orang-orang yang berbeda agama, suku, dan golongan. Meskipun ia dan setiap anggota panitia memiliki kesulitan dalam waktu untuk bertemu karena kesibukan mereka masing-masing, Iwan yakin bahwa dengan komitmen dan integritas yang dibalut dengan spiritualitas pelayanan kesulitan tersebut dapat diatasi.

Iwan juga berharap, setelah berakhirnya tahun persatuan, semua orang baik umat katolik maupun umat lintas agama menjadi semakin toleran, menghargai perbedaan dan senantiasa bergandengan tangan bekerja sama menyongsong Indonesia yang lebih baik. (RAFA/KOMSOS)

Tuhan yang Menyembuhkan

Romo Yote

SIAPA yang tak tahu Romo Letkol (Sus) Yos Bintoro, Pr? Fotonya sempat viral pasca ia menjadi Komandan Upacara HUT TNI ke-72 di Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta. Bukan sebuah perjalanan yang mudah hingga saat ini dirinya bertugas sebagai pastor militer pertama yang mengikuti pendidikan reguler ketentaraan dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Juga bukan sebuah perjalanan yang singkat sejak Romo yang akrab disapa Romo Yote ini memilih untuk menjawab panggilan hidupnya untuk menjadi seorang imam.

Romo Yote mengatakan sebuah anugerah sejatinya tidak selalu hadir dalam keadaan baik. Bahkan, dalam keadaan tidak baik pun, anugerah bisa menghampiri. Ia menceritakan bahwa sejak bayi, ia sudah “dikaruniai” Tuhan sebuah penyakit bawaan lahir, yakni epilepsi perut. Dan ketika ia berusia 3 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya terbakar. Saat usianya 5 tahun, ia pun pernah jatuh yang menyebabkan kepalanya bocor karena terantuk batu. Kondisi ini menyebabkan anak kelima dari enam bersaudara pasangan Rafael Ignatius Djoko Sukaryo Martokusumo dan Ray Maria Dolores Mursyanti ini jarang masuk sekolah karena banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Alhasil, Yote kecil sering ketinggalan pelajaran dan terbilang tak berprestasi di sekolahnya.

“Dalam situasi tidak baik itu, ibunda Romo bilang, kalau mau sembuh kamu harus percayakan sama Tuhan Yesus. Romo percaya Tuhan bisa menyembuhkan. Dan ternyata betul, Romo mengalami penyembuhan secara medik yang tidak bisa dijelaskan. Tadinya Romo pakai terapi pijat karena yang rusak ternyata juga termasuk saraf tepi dari tulang belakang saat jatuh itu. Ibu juga bantu doa dan sempat bernazar. Ibu doa sama Bunda Maria secara khusus di Lourdes dan mengambil air disana. Air itu dicampur dengan obat-obat Romo. Akhirnya, Romo sembuh,” ungkap Romo Yote.

Kesembuhan itu semakin diyakininya saat hasil tes medik Electroencephologram (EEG) menyatakan negatif dan juga saraf tepi tulang belakangnya sudah kembali normal. Romo Yote mengucap syukur kepada Tuhan karena penyakit yang hampir 4 tahun menghantuinya itu akhirnya sembuh seketika. Ia duduk di bangku kelas V SD, saat kondisinya membaik. Sejak itu, rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan Romo Yote pun mulai mengejar ketertinggalannya hingga bisa berprestasi di sekolahnya.

“Satu hal, Romo merasa Tuhan baik. Saat kelas V SD, Romo berfikir, apa yang bisa Romo berikan (kepada Tuhan) karena Tuhan sudah baik sama Romo. Romo sering ke Gereja dan selalu mendapatkan kedamaian. Kenapa Romo menjadi Romo, karena Romo ingin mempersembahkan hidup untuk Tuhan,” papar imam yang juga mengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta ini.

Saat masuk seminari dan menjadi imam, ia sadar bahwa sakramen imamat bukan tujuannya. Menurutnya, sakramen imamat hanya sebagai sarana. Tujuannya adalah hidup suci. Dan hidup suci bukan hanya menjadi pastor saja, melainkan menjadi orang yang berguna bagi sesama. Oleh karena itu, ia tak pernah main-main dengan panggilannya sebagai pastor militer. Apalagi sebagai tentara, ia menghadapi godaan yang luar biasa, mengingat jenjang karier militer cenderung naik.

“Romo mengira tugasnya akan di Jakarta, karena Romo memilih jadi Romo projo Jakarta. Namun, Romo disiapkan oleh Mgr. Leo Sukoto bertugas di Tangerang. Itu cita-cita Romo, mimpi untuk orang-orang kecil, para penderita kusta. Romo punya hati disitu. Tapi, tak lama uskupnya ganti (Uskup Agung Jakarta Julis Kardinal Darmaatmadja, SJ) dan Bapa Kardinal memanggil Romo dan ditugaskan khusus untuk menjadi pastor tentara. Padahal, Romo tidak suka tentara,” ungkapnya.

Romo Yote mengakui, di masa pencariannya berkarya sebagai pastor militer, ia sempat frustasi selama empat tahun. Namun, ia langsung teringat akan kebaikan Tuhan kepadanya. Ia teringat pula akan kuasa Tuhan yang mengubah kehidupannya. Atas keyakinan itu pula, ia belajar untuk menerima dan tak terasa ia sudah menjalani tugas ini selama 21 tahun.

“Bapa Kardinal bilang sama Romo, Bintoro saya tahu kamu oposan sama tentara. Tapi saya beritahu, tentara tidak bisa kamu kritik dan benahi dari luar. Tentara harus kamu benahi dari dalam. Maka itu saya ditempatkan di tempat pembentukan calon pemimpin yaitu Akademi Angkatan Udara supaya karakter mereka terbentuk. Sekarang, Romo sudah jalani tugas ini selama 21 tahun. Kelihatan nggak, Romo frustasi? Tidak, karena Romo selalu dalam suka cita,” ujar Romo yang pernah ditugaskan dalam Operasi Satuan Tugas Pembina Mental di Timor Timur, selama delapan bulan ini.

Seiring waktu, ia sadar tugas di TNI AU tidak cukup hanya memberikan pembinaan rohani atau sekedar pelayanan pastoral saja. Namun, saatnya berbuat sesuatu yang menyiapkan apa yang dibutuhkan TNI AU ke depan. Hingga akhirnya di tahun 2001, ia mampu merenovasi gudang di kawasan Pangkalan TNI AU untuk dijadikan bangunan gereja beserta pastoran. Dua tahun berselang, TNI AU menghibahkan bangunan gereja itu kepada Gereja Katolik yang diberi nama Gereja St. Mikael.

“Pengalaman untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus adalah pengalaman untuk siap menderita. Penderitaan itu dianggap sebagai suatu cara untuk menghidupi iman kita. Kita harus bersyukur dididik dalam kesulitasn dan rintangan agar teguh menghadapi badai namun juga berbelas kasih kepada mereka yang gagal sehingga kita menjadi manusia yang hatinya jernih,” pungkasnya. (ASTRI NOVARIA/KOMSOS)