SURAT KEPUTUSAN

Nomor. 35 /DPH – PGDP/PKKPM/X/2020

Saudara/i umat Paroki Pasar Minggu yang terkasih dalam Kristus, berdasarkan Pergub DKI Jakarta No. 101 Tahun 2020 mengenai Status PSBB Transisi DKI Jakarta dan diskusi antara DPH, Tim Gugus Kendali Paroki, dan Tim Gugus Kendali Keuskupan, maka dengan ini kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Paroki Pasar Minggu, Gereja Keluarga Kudus mengadakan misa offline mulai tanggal 18 Oktober 2020.
  2. Semua kegiatan kerohanian dan pastoral bersama: pertemuan lingkungan, persiapan – persiapan penerimaan sakramen, pertemuan kategorial, kelompok doa, dan rapat-rapat dilaksanakan secara online.
  3. Pemberkatan perkawinan tetap dapat dilaksanakan dengan protokol Covid-19 ketat sesuai arahan pemerintah daerah dan Gereja

Dalam situasi keprihatinan ini, tetaplah percaya kepada belas kasih Allah. Semoga berkat Tuhan senantiasa menyertai keluarga-keluarga, komunitas dan masyarakat kita. Marilah tetap menjaga kesehatan dan memelihara kehidupan bersama. Kita saling mendoakan dalam perlindungan Keluarga Kudus. Tuhan memberkati.

Pasar Minggu, 16 Oktober 2020
Hormat kami,

RD Antonius Pramono
Pastor Kepala Paroki Pasar Minggu

Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku

HARI MINGGU BIASA XXIX (Hari Minggu Misi)

Selamat Hari Minggu Misi Sedunia! Selamat Hari Minggu Bapak, Ibu, Saudara/I, rekan-rekan muda, dan anak-anak sekalian. Salam Keluarga Kudus.

Hari minggu ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia. Tema yang diusung adalah “Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku”. Tema tersebut memiliki sekurang-kurangnya dua permenungan, yaitu keterbukaan untuk dibentuk dan kerelaan hati menerima tugas dari Tuhan.

Keterbukaan hati untuk dibentuk oleh Tuhan ada pada kalimat “Ini Aku Tuhan”. Kalimat sederhana tersebut menjadi penanda bagi orang yang dengan segala kelemahan dan kekurangannya mau melayani Tuhan. Keterbukaan hati ini juga membuat seseorang untuk senantiasa dibentuk dan diperbarui oleh Tuhan, Sang Mesias Juru Selamat kita.

Dibentuk dan diperbarui oleh Allah membawa kita pada pengenalan diri kita pada Allah. Mengenali diri untuk melayani Tuhan membuat seseorang mampu untuk siap sedia diutus kemanapun. Perutusan sendiri memiliki unsur kerelaan hati. “Utuslah Aku” menjadi kunci bagi seseorang untuk mau menghadapi tantangan dalam perutusan terlebih sebagai murid-murid Kristus. Seorang yang diutus sangat diperlukan sikap kerelaan hati. Kerelaan untuk diperbarui oleh Tuhan serta meninggalkan “kantong” yang lama untuk diisi dengan yang baru.

Saya sendiri yang sedang menjalani perutusan terkadang tertatih-tatih melangkah dalam menjalankannya. Namun, saya yakin dan percaya bahwa Tuhan menyertai saya. Berkat-Nya selalu menyertai saya dalam setiap perutusan saya terlebih dalam masa Tahun Orientasi Pastoral ini. Perutusan yang dimaksud bukan hanya berfokus pada tugas gereja atau yang luar biasa saja. Melainkan dimulai dari keseharian kita serta identitas sebagai murid-murid Kristus.

Paus Fransiskus pun menyadari bahwa misi yang Tuhan percayakan pada seseorang membawa diri orang tersebut dari ketakutan dan mawas diri kepada realisasi yang dibarui. Bahkan, kita bisa menemukan diri sendiri ketika kita memberikan diri kita sendiri kepada orang lain. Ia meminta kita untuk secara personal bersedia diutus, karena Ia adalah Kasih yang selalu ada pada misi selalu menjangkau hingga memberikan hidup. Keluar dari kelimpahan kasih-Nya bagi kita, Allah Bapa mengutus Yesus Putra-Nya (bdk. Yoh. 3:16).

Misi adalah tanggapan bebas dan sadar atas panggilan Allah. Tetapi kita melihat panggilan ini hanya ketika kita memiliki hubungan cinta personal dengan Yesus yang hadir di dalam Gereja-Nya. Perayaan hari Minggu Misi Sedunia juga sekaligus penegasan bagaimana doa, renungan, dan bantuan material wujud persembahan Anda merupakan begitu banyak peluang untuk ikut ambil bagian secara aktif dalam misi Yesus di dalam Gereja-Nya.

Fr. Bernando Sitohang