Perjalanan Memaknai Panggilan

DALAM homili pada misa Minggu (22/4) pagi, yang bertepatan dengan hari Doa Panggilan Sedunia ke-55, Frater Ambrosius Lolong mengungkapkan rahasia kecilnya soal alasannya menjadi biarawan. Dulu, semasa menjadi misdinar, Rosi kecil  selalu menoreh jari tangannya ke dalam wadah anggur kecil yang dipegangnya. Harapannya, kala itu, ia ingin bisa ikut  merasakan anggur yang diminum oleh Romo.

Kisahnya ini disambut dengan gelak tawa umat saat itu. Bagi sebagian umat Paroki Pasar Minggu, Frater Rosi bukanlah sosok asing. Sebelum melanjutkan pendidikan di seminari tinggi, Rosi menghabiskan masa kecilnya di Paroki Pasar Minggu. Ia aktif menjadi putra altar hingga akhirnya setelah selesai SMP melanjutkan  ke Seminari Menengah Wacana Bhakti (SWB).

Menjadi Biarawan bukanlah cita cita yang sejak awal terlintas dalam benak Frater Rosi. Mendaftar di SWB pun dijalaninya demi menemani sahabatnya yang sangat berminat melanjutkan pendidikan di Seminari. Serangkaian ujian masuk, ia jalani bersama lima orang temannya yang berasal dari SMP Strada Margamulia. Meskipun demikian, ia tidak menampik menyimpan harap untuk bisa lolos seleksi. Harapannya terkabul. Rosi, satu satunya yang di terima menjadi siswa di SWB. Sementara kelima temannya tidak lolos seleksi.

IMG_0037

Melepaskan putera satu satunya untuk menapaki panggilan menjadi biarawan bukanlah hal yang sederhana bagi keluarga kecil Lolong.  Hal itu terungkap dalam sesi bincang santai bersama putera puteri BIA dan BIR bersama Frater Rosi dan kedua orangtuanya.

Dalam sesi bincang santai yang diadakan selepas misa kedua di hari Minggu Panggilan tersebut, keluarga kecil Lolong membagi kisah mengenai panggilan yang dijalani oleh Frater Rosi. Meskipun ayahanda, Laurentius Lewo S, sudah merasakan dan menerima penanda bahwa puteranya ini kelak akan menjalani hidup sebagai biarawan sejak masih dalam kandungan, tidaklah demikian dengan ibunda, Veronica Endang H, yang merawat dan mengasuh putera semata wayangnya sejak kecil. Puteranya yang menurutnya bukanlah anak alim, yang selalu gelisah jika diajak berdoa ini bukanlah sosok yang cocok untuk menjadi imam. Jadi, ketika sepucuk surat dari Seminari Menengah Wacana Bhakti (SWB) ada di tangannya dan mengabarkan bahwa puteranya diterima untuk melanjutkan pendidikan di sana, rasa galau dan gelisah pun mendera. Ia tak ingin ditinggal putera kesayangannya. Belumlah habis kegelisahannya, munculah Rosi yang tiba dari  sekolah. Masih dengan tas dan sepatu sekolah melekat di badan, menanyakan pada ibunda apakah sudah menerima surat dari SWB. Spontan, dijawabnya dengan  tidak menerima surat tersebut.

Jawaban spontan tersebut pun disesalinya kemudian, manakala melihat kilatan bingung di mata Rosi. Bergegas Ibunda berdoa kepada Santa Maria melepaskan segala galau dan gelisah yang menderanya. Setelah berdoa, sang ibunda  mendapatkan kekuatan untuk menyampaikan kabar gembira yang semula disembunyikannya tersebut kepada Rosi.

image

Pengalaman yang serupa tapi tak sama juga dialami oleh orang tua  Suster Englebertine Christiani, atau Suster Nanik. Suster Nanik yang hadir dalam sessi bincang santai memperingati Minggu Doa Panggilan di Paroki Pasar Minggu ini, telah menjalani kehidupan sebagai biarawati di ordo Santa Perawan Maria di Jombang selama 36 tahun. Hari itu, Suster Nanik menjadi tamu untuk berbagi cerita karena kebetulan sedang berada di Jakarta untuk memperingati hari ulangtahun ibunda tercinta yang ke 96 tahun.

Serupa dengan ibunda Lolong, ibunda Suster Nanik juga tidak menyangka puterinya memilih menjadi biarawati daripada menjalani kehidupan rumah tangga seperti saudara perempuannya yang lain. Dari tujuh bersaudara, selain suster Nanik, ada seorang kakaknya menjadi Imam Katolik. Setiap malam pukul dua belas, ibunda Suster Nanik, berdoa agar Nanik mendapatkan jodoh yang terbaik.

Kegalauan ibunda Nanik didasari atas usia puterinya yang sudah cocok untuk berumah tangga, selain juga saat itu Nanik tengah menjalin hubungan khusus dengan seorang pria. Tetapi Nanik memiliki kegalauan tersendiri. Hubungan serius yang dijalaninya bersama teman lelakinya, tetap membuatnya belum menemukan apa yang ia cari. Meskipun dirinya pun belum memastikan apa yang sebetulnya dia cari. Menanggapi kegelisahannya tersebut, paman Nanik yang kebetulan seorang Romo memberikan saran untuk mengikuti retret panggilan. Meskipun ragu, merasa panggilan semacam itu tidaklah muncul di usianya yang sudah melewati angka dua puluh, Nanik mengikuti saran sang Paman. Ternyata dalam retret panggilan tersebut Nanik menemukan panggilannya di sana. Nanik membutuhkan beberapa waktu untuk memutuskan pilihannya tersebut. Termasuk berbicara dengan ibunda.

image

Tetapi ibunda tanpa sengaja sudah mengetahui impian sejati Nanik melalui catatan di buku diary puterinya. Dalam catatan tersebut ibu mengetahui pilihan hati puterinya untuk mengikuti dan melayani karya Yesus Kristus  dengan menjadi biarawati. Selanjutnya, setiap pukul dua belas malam, sampai hari ini, ibunda suster Nanik selalu berdoa agar tetap setia melayani karya Yesus.

Kisah kisah di belakang layar dari Frater Ambrosius Lolong dan Englebertine Christiani ini disampaikan di hadapan putera puteri Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja dan OMK di paroki Pasar Minggu. Kegiatan ini diselenggarkan oleh seksi Panggilan Gereja Keluarga Kudus Pasar Minggu bekerjasam dengan BIR, BIA dan OMK. Kehadiran orang tua dari Frater Rosi, memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana keluarga menanggapi sebuah panggilan. Ayahanda Frater Lolong, yang berasal dari Flores ini, kelihatannya sangat siap mendampingi puteranya melewati jalan panjang menjadi biarawan.

Semasa Rosi harus menjalani pendidikan di asrama jauh dari rumah, ayahanda tak segan segan menjelaskan keberadaan Rosi kepada teman teman sepermainan di lingkungan rumahnya, yang kerap bertanya kabar Rosi. Sebagian besar dari mereka adalah teman teman Rosi yang berlainan keyakinan, sehingga ayahanda perlu menjelaskan dengan sabar pendidikan semacam apa yang dijalani oleh puteranya. Bahkan ketika teman teman  sepermainannya mulai menjalani kehidupan rumah tangga, mereka juga bertanya kepadanya, kapan Rosi menikah? Ia kembali menjelaskan mengenai pilihan hidup puteranya.

image

Bagi Frater Rosi, yang memulai langkah mewujudkan panggilannya dalam usia muda, peran pendamping dari Bina Iman  Anak dan Remaja juga sangat berperan. Melalui bimbingan merekalah  Rosi mengenal arti kata panggilan imamat. Rosi juga menghayati arti pelayanan dalam kegiatan menjadi misdinar. Dalam hal ini, Rosi mendapat kekuatan doa dan dukungan penuh dari para pendamping iman di masa mudanya. Selanjutnya,  dalam menghadapi berbagai tantangan pribadinya, Rosi mencoba mencari jawaban dan kekuatan dari  sosok  yang menjadi panutannya. Seperti berbagai inspirasi spiritual yang diserapnya dari Romo Paroki, Romo Martinus Hadiwidjojo Pr dan Romo Joachim Kimi Ndelo, CSsR.  Demikian juga dengan Suster Nanik, yang menemukan panggilannya melalui sebuah saran dari pamannya yang menjadi seorang Romo.

Panggilan Allah dalam diri pribadi kita sering kali terkubur dalam kecemasan dan kekhawatiran menjadi berbeda dengan gaya hidup terbaru yang sedang jadi pusat perhatian. Dalam Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2018, yang disampaikan  menyambut Hari Doa Panggilan Sedunia ke-55, Bapa Suci menegaskan ,”Setiap Kristiani hendaknya tumbuh dalam kemampuan membaca kedalaman hidupnya, dan memahami di mana dan untuk apa dia dipanggil Tuhan, untuk menjalankan misi-Nya. Kita masing-masing dipanggil – entah hidup awam dalam perkawinan, hidup imamat dalam pelayanan tertahbis, maupun hidup membiara – untuk menjadi saksi Tuhan, di sini dan sekarang.

Sejalan dengan pesan Bapa Suci Paus Fransiskus, Bapak Uskup  Ignatius Suharyo dalam salah satu sambutannya di Paroki Pasar Minggu menyampaikan pesan, “Dalam menanggapi panggilan hidup setiap orang yang berbeda beda, dan kita juga harus menyadari cara Allah yang memanggil tanpa mengganggu kebebasan kita , maka alangkah baiknya setiap hari kita mulai berdoa dan bertanya  kepada Tuhan. Tuhan apakah yang Kau kehendaki dan harus kulakukan hari  ini?” (NANA/KOMSOS)